BETANEWS.ID, KUDUS – Di kaki Gunung Muria, tepatnya di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, berdiri sebuah rumah lawas yang masih setia menjaga jejak masa lalu. Rumah itu kini menjelma menjadi Griyo Kakung, warung makan sederhana yang menyuguhkan menu kampung dan suasana nostalgia tempo dulu.
Begitu melangkah masuk, terlihat kayu tua dan pemandangan gebyok ratusan tahun seakan membawa pengunjung pulang ke masa kecil. Di sudut-sudut ruangan, ornamen jadul sengaja dipertahankan, melengkapi suasana rumah peninggalan enam generasi keluarga Agung Priyanto, sang pemilik Griyo Kakung.
Baca Juga: Semarak Milad ke-49 RS ‘Aisyiyah Kudus, Meriahkan dengan Khitan Massal hingga Donor Darah
“Rumah ini warisan dari simbah. Tiang saka dan gebyoknya asli kayu lama, usianya sudah ratusan tahun. Saya ingin mempertahankannya agar pengunjung bisa merasakan sensasi kampung tempo dulu,” bebernya.
Namun, daya tarik utama bukan hanya pada suasana rumahnya. Dari dapur sederhana, tersaji menu khas pedesaan yang kini kian langka, yakni sego jagung. Nasi jagung murni, atau kadang bercampur dengan beras putih sesuai selera, tersaji bersama sayur lompong, nanas ati, hingga sambal lombok.
Ia menuturkan, terdapat lauk pauk pilihan yang semakin menggoda. Karena terdapat ayam goreng, ndas manyung dengan sensasi pedasnya, hingga iwak kali khas Rahtawu. Harga pun dibandrol ramah di kantong, mulai Rp25 ribu saja.
“Sego jagung ini sengaja kami tonjolkan, karena dulu jadi makanan harian simbah-simbah di kampung. Sekarang justru banyak yang kangen dan mencari karena sudah jarang ada di kota,” ungkapnya.
Pengalaman kuliner di Griyo Kakung kian lengkap dengan camilan gethuk nyimut dan seduhan kopi Muria yang terkenal harum. Suasana sejuk khas Rahtawu membuat secangkir kopi terasa lebih nikmat, apalagi ditemani pemandangan puncak Gunung Muria yang tampak gagah dari kejauhan.
Agung menambahkan, Griyo Kakung buka setiap hari, kecuali Kamis, mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Tak heran jika tempat ini jadi persinggahan favorit para wisatawan maupun pendaki yang hendak menuju Puncak 29 tersebut.
Baca Juga: Sepi Pengunjung, 5 Ribu Kios dan Los Pasar Tradisional di Kudus Tutup
Salah seorang wisatawan asal Jepara, Najwa mengaku jatuh hati sejak pertama kali mampir. Bahkan setelah merasakan sensasi suasana dan rasa kuliner jadul di sana, ingin pulang kampung ke rumah neneknya.
“Awalnya cuma iseng berhenti, tapi ternyata masakannya enak banget dan suasananya bikin betah. Dari sini bisa lihat view puncak gunung, rasanya kayak pulang kampung ke rumah simbah,” katanya sambil tersenyum.
Editor: Haikal Rosyada

