Melihat Sapu Bedar, Tradisi Unik pada Sedekah Bumi Desa Sampok

BETANEWS. ID, PATI – Pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa, warga Desa Sampok, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, kembali menggelar tradisi tahunan yang penuh makna, yakni sedekah bumi. Namun bukan sekadar ritual biasa, tradisi ini memiliki sentuhan unik yang hanya bisa ditemukan di desa ini, yakni kemunculan Sapu Bedar, sapu lidi berhias warna-warni yang menyulut semangat anak-anak dan menambah semarak suasana.

Sapu Bedar bukanlah sapu biasa. Dibuat dari batang lidi yang dihiasi kertas warna-warni dan uang lembaran di ujungnya, sapu ini disusun menyerupai gunungan dan diarak keliling desa sebelum akhirnya dibawa ke Punden Mbah Togog di Dukuh Winong.

Di sanalah doa bersama digelar, sebelum Sapu Bedar menjadi rebutan anak-anak. Suasana pun berubah riuh, saat anak-anak berebut Sapu Bedar tersebut.

-Advertisement-

Baca juga: Harmoni Lintas Agama dalam Tradisi Sedekah Bumi Desa Jrahi Pati

Tradisi ini tak hanya menghibur, tapi juga menjadi cara mengenalkan nilai budaya kepada generasi muda, agar tak tercerabut dari akar leluhur.

Selain di Punden Mbah Togog, prosesi sakral juga digelar di dua lokasi lain pada perayaan Sedekah Bumi Desa Sampok. Yakni, Petilasan Mbah Syamsudin Surya Alam dan Punden Gambiran. Warga datang dengan membawa tlandik atau berkat, yang setelah didoakan kemudian dibagikan kepada warga dan tamu dari luar desa.

“Ini sedekah dari warga Sampok atas hasil bumi yang melimpah. Maka yang menerima adalah saudara-saudara dari desa tetangga,” ujar Warsito, Kepala Desa Sampok.

Ia menjelaskan, tradisi ini selalu digelar pada hari Rabu Legi dan Kamis Pahing di bulan Apit. Selain sebagai wujud syukur atas hasil bumi, sedekah bumi juga menjadi ungkapan terima kasih atas berdirinya Desa Sampok.

Baca juga: Melihat Tradisi Sedekah Bumi di Mojoagung Pati, Warga Riuh Berebut Gunungan

“Biasanya ada tayuban dan hajatan bersama di punden. Ini melibatkan semua elemen masyarakat, dari perangkat desa hingga tokoh agama,” tambah Warsito.

Tak hanya warga lokal, tradisi ini juga menarik perhatian warga dari desa lain. Salah satunya Mashuda, warga Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu, yang datang jauh-jauh demi ikut merasakan khidmat dan keberkahan tradisi ini.

“Saya senang sekali. Dapat berkat juga, nanti mau dimakan bersama keluarga. Semoga membawa berkah,” ujarnya sembari tersenyum.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER