Dibuat Secara Dadakan, Kue Leker Sugianto Tawarkan Banyak Varian Rasa

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pinggir Jalan Ganesha II, Purwosari, Kecamatan Kota Kudus, tercium aroma kue leker yang baru matang. Di samping SMK N 1 Kudus, sebuah gerobak biru bertuliskan “Leker’s” menjadi saksi bisu perjuangan Sugianto (45), pria asal Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, yang kini sukses berjualan kue leker setelah melewati berbagai pekerjaan serabutan.

Dengan cekatan, Sugianto mengoleskan margarin pada wajan panas, menuangkan adonan, lalu menambahkan potongan pisang segar sebagai isian. Tak butuh waktu lama, kue leker bertekstur renyah dan beraroma sedap siap disajikan kepada pelanggan yang sudah menanti.

Di tengah kesibukannya, Sugianto membeberkan, bahwa ia mengawali kariernya sebagai tukang bangunan dan pernah menjadi tukang ojek becak di kawasan wisata Menara Kudus. Namun, keinginan untuk memiliki usaha sendiri terus terpatri dalam pikirannya. Hingga suatu hari, ia menemukan inspirasi dari YouTube.

-Advertisement-

Baca juga: Bakso Goreng Legend di Depan SMP 1 Mejobo Ini Harganya Rp2 Ribuan per Bungkus

“Awalnya cari-cari di YouTube, lalu coba jualan. Alhamdulillah, sampai sekarang masih bertahan. Dulu kerja serabutan, pernah jadi tukang bangunan dan ojek becak di Menara,” ujarnya.

Keputusannya untuk berjualan kue leker terbukti tepat. Selama lima tahun terakhir, ia berhasil mempertahankan usahanya dengan menawarkan beragam varian rasa, mulai dari coklat pisang, cokelat keju, cokelat roti, hingga varian unik seperti cokelat durian dan cokelat melon.

Salah satu keunggulan kue leker Sugianto adalah dibuat secara dadakan, sehingga selalu renyah. Dari sekian banyak varian, coklat pisang dan coklat keju menjadi favorit pelanggan.

Baca juga: Getuk Nyimut Pak San Pelanggannya hingga Papua, Apa Istimewanya?

“Di sini banyak varian rasa, tapi yang paling diminati pelanggan coklat pisang dan coklat keju,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warung kue leker ini buka setiap Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 WIB hingga adonan habis. Dijual dengan harga Rp1.000, Sugianto bisa menghabiskan 2,5 hingga 3 kilogram adonan per hari. Dari penjualan tersebut, ia bisa meraup omzet sekitar Rp300 ribu sehari.

Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER