BETANEWS.ID, KUDUS – Di Jalan Mejobo, Mlati Kidul, berdiri sebuah warung sederhana yang tetap bertahan selama puluhan tahun dengan cita rasa khasnya. Warung pecel dan gado-gado milik Sonah (56) ini merupakan kelanjutan dari usaha yang dirintis oleh ibunya sejak lama. Kini, dengan resep turun-temurun yang hanya sedikit disempurnakan, Sonah tetap menjaga warisan tersebut.
“Dulu ibu saya yang mulai jualan. Saya belajar resepnya dari beliau, dan sampai sekarang resepnya tetap sama, hanya saya sedikit sempurnakan,” ujarnya.
Warung Sonah buka setiap hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Dengan harga antara Rp7.000 hingga Rp17.000, warung ini menjadi favorit berbagai kalangan, mulai dari pegawai, penunggu pasien di Rumah Sakit Aisyiyah Kudus, hingga warga keturunan Tionghoa.
Baca juga: Kuliner Jepang di Mindo Mentai Ini Harganya Ramah Kantong Orang Kudus
Menu andalan di sini meliputi nasi pecel, lontong pecel, gado-gado, hingga kolak. Namun, pecel dan gado-gadonya menjadi primadona.
“Ada yang membuat menu kami beda. Gado-gado di sini itu asli, tanpa campuran ketela seperti di tempat lain. Pecel kami juga unik karena pakai cingur,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Sonah meracik bumbu dari bahan segar seperti kacang, gula merah, bawang merah, bawang putih, dan cabai, sehingga menghasilkan cita rasa yang khas. Selain cita rasa, kebersihan juga menjadi prioritas. Setiap hari, ia memastikan bahan-bahan segar didapatkan dari pasar lokal untuk menjaga kualitas.
“Airnya kami ambil dari rumah agar lebih higienis, beda dengan yang di pinggir jalan,” bebernya.
Bertahan lebih dari 25 tahun, warung ini telah berkembang dari warung kecil menjadi tempat makan yang lebih luas dan nyaman. Meski belum membuka cabang, warung Sonah selalu ramai, terutama pada hari Jumat dan Senin.
Baca juga: Sego Tempe Pedas, Kuliner Khas Pati yang Jadi Buruan untuk Makan Siang
Sonah mengaku bangga lantaran banyak pelanggan yang datang berkat rekomendasi dari orang-orang yang sudah mencicipi masakannya. Di tengah persaingan banyaknya penjual pecel dan gado-gado, warung Sonah masih tetap menjadi jujugan masyarakat Kudus.
“Kalau kendala utamanya itu keterbatasan lahan parkir bagi pelanggan. Harapannya nanti anak saya bisa meneruskan dan mengembangkan usaha ini,” tambah Sonah.
Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

