BETANEWS.ID, PATI – Puluhan mahasiswa dan pemuda ini melakukan demo di depan Kantor Bupati Pati pada Jumat (25/10/2024). Mereka memprotes terkait rekrutmen pengisian perangkat desa (Perades) yang akan menggunakan metode Lembar Jawaban Komputer (LJK).
Hal itu dinilai sebuah kemunduran. Sebab, ujian seleksi pengisian perangkat desa sebelumnya sudah menggunakan Computer Asisten Test (CAT). Apalagi katanya, sebagai pihak ketiga yang digandeng untuk menyelenggarakan ujian merupakan kampus besar di Indonesia.
Baca Juga: Sejumlah APK Paslon 02 Dirusak, Suharyono Respon Begini
“Ini sebuah kemunduran. Kayak anak SD saja. Karena, LJK ini seperti yang dilakukan anak-anak SD saat ujian,” ujar Arifin, Koordinator Aksi pada Jumat (25/10/2024).
Pihaknya mengaku tidak terima perangkat desa diuji seperti anak SD. Sebab menurutnya, orang yang duduk sebagai perangkat desa merupakan orang-orang yang memiliki kualitas lebih baik.
Bukan hanya itu saja, metode ujian dengan sistem LJK memiliki celah dan sangat rawan untuk dilakukan manipulasi.
Disinilah katanya, indikasi temuan celah yang akan dimainkan oleh pemerintah desa ataupun Pemerintah Kabupaten Pati.
“Metode tes yang modern kembali menuju konvensional menandakan bentuk kemunduran yang patut kita curigai bersama. Karena ada beberapa kemungkinan yang kami harap tidak semacam itu,” ungkapnya.
Dirinya menyebut, bahwa proses rekrutmen pengisian yang menggunakan metode LJK itu, ada indikasi ‘jual beli jabatan’.
Baca Juga: Dewan Harap Pengisian Perades di Pati Berjalan Kredibel, Tak Ada ‘Jual Beli Kursi’
Bukan hanya itu, pihaknya juga mencurigai rekrutmen pengisian perangkat desa yang dilakukan jelang pelaksanaan pilkada, terkesan dipaksakan dan terburu-buru.
“Apakah memang dipaksakan seperti itu, atau karena suasana pilkada. Sehingga biisa jadi pengalihan,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

