BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Mudrikatun, mengungkapkan, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2050, 900 juta jiwa diprediksi akan mengalami gangguan pendengaran. 60 persennya terjadi pada anak dengan usai di bawah 16 tahun.
Menurutnya, penyebab gangguan pendengaran tersebut adalah penyakit yang berasal dari infeksi virus. Namun, infeksi tersebut sebenarnya bisa dicegah. Infeksi yang dimaksud seperti gondok, campak, rubela, meningitis, infeksi sitomegalovirus, dan otitis media kronis.
Selain infeksi virus, gangguan pendengaran juga disebabkan adanya komplikasi saat kelahiran, seperti kelahiran asfiksia, berat badan lahir rendah, prematur, penyakit kuning, serta penggunaan obat-obatan ototoxic pada ibu hamil dan bayi.
Baca juga: 13 Kecamatan di Jepara Siaga Kekeringan, BPBD Malah Tak Punya Mobil Tangki
Untuk itu, Dinkes Jepara melakukan skrining kesehatan telinga bagi siswa SD. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi kesehatan serta proses penanganannya, sehingga proses pembelajaran bisa dilaksanakan secara optimal.
“Karena kesehatan indera ini, kan, hal yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia,” katanya usai pemeriksaan kesehatan di SD 4 Mindahan, Kecamatan Batealit, Rabu (14/8/2024).
Sedangkan untuk data saat ini dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 466 juta atau 6,1 persen orang dari seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran. Di dalamnya terdiri dari 432 juta atau 93 persen penduduk dewasa dan 34 juta atau 7 persen anak-anak.
Baca juga: Musim Kemarau, Petani Jepara Mulai Waswas Lahannya Kekurangan Air
Lebih lanjut ia mengatakan, selain masalah pada pendengaran atau telinga, anak-anak juga rentan mengalami masalah pada indera penglihatan atau mata. Jumlah anak yang mengalami gangguan pada mata juga cukup tinggi.
”Tadi kami lakukan pemeriksaan telinga, tahap ini menyasar 73 anak, ada 38 anak yang serumen. Pada pemeriksaan mata yang diperiksa 36 anak. Sementara yang bermasalah pada penglihatannya ada lebih dari 10 persen atau empat anak,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

