BETANEWS.ID, KUDUS – Abu Said (62) terlihat menata telur bebek yang dibalut tanah merah pada sebuah ember. Ia meletakkannya secara melingkar hingga hingga penuh. Setelah itu, ia berpindah pada ember lain dan melakukan hal serupa.
Warga Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu sudah sembilan tahun ini memproduksi telur asin. Penjualan akan meningkat saat mendekati musim haji.

“Biasanya produksi telur asin itu musiman, sih. Pas bulan haji gitu biasanya banyak pesanan. Sekarang yang diprioritaskan memang katering. Kalau warung sudah jarang karena pemasok telurnya yang terbatas,” ucap Said, Jumat (03/05/2024).
Baca juga: Jangan Sampai Kalap, Japanese Food di Yakinmurah Harganya Mulai Seribuan
Dirinya menyebut, dulunya mempunyai sekitar 30 warung langganan sedangkan untuk tempat katering ada empat langganan. Biasanya, Said mengambil telur bebek dari peternak Karanganyar, Demak.
“Karena keterbatasan pemasok telur bebek, jadinya warung-warung yang sudah jadi pelanggan harus dinomor duakan dulu. Tapi nantinya jika pasokan telur bebek lancar, pastinya kita juga akan taruh ke warung-warung,” bebernya.
Said mengatakan, saat ini harga telur asin mengalami kenaikan. Biasanya dirinya mematikan harga per butir Rp3.500. Namun, dirinya juga berharap semoga nantinya harga telur bebek mulai menurun supaya harga bisa kembali normal lagi.
“Alhamdulillah setiap bulannya bisa buat hingga ribuan telur asin. Meskipun sekarang harga jualnya naik, tapi saya juga bilang ke para pelanggan kalau nanti harga telur bebeknya sudah mulai turun harganya juga normal lagi,” jelas Said.
Editor: Ahmad Muhlisin

