BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa siswa, guru, dan penjaga sekolah SDN 2 Setrokalangan terlihat sedang membersihkan sisa banjir, Rabu (20/3/2024). Mereka berbagai peran menyebar ke seluruh gedung sekolah yang sudah bebas dari banjir.
Meski masih tampak sedikit genangan air di halaman sekolah, tapi pembersihan segera dilakukan agar tidak menimbulkan karat di beberapa barang yang terendam banjir. Selain itu, mereka juga mulai mengeringkan berbagai buku yang ikut terendam.
Guru SDN 2 Setrokalangan, Indah Rahayuningati, mengungkapkan, banjir memang kerap kali menyapu sekolah tempatnya mengajar.
Baca juga: Jalan Kudus-Jepara Macet Total, Mengular Hingga Proliman Tanjungkarang
“Banjir itu sudah hampir setiap tahun terjadi, tapi kali ini merupakan banjir paling besar dari tahun kemarin,” ucapnya.
Indah menuturkan, air mulai masuk ke dalam ruangan kelas pada Kamis (14/3/2024) dini hari. Namun, saat itu siswa-siswi memang telah diliburkan sebab beberapa rumah mereka sudah terendam banjir.
Dirinya melanjutkan, saat waktu sahur penjaga sekolah itu datang ke sekolah melihat seberapa tinggi air naiknya serta menaikkan barang-barang penting milik sekolah supaya tidak terkena banjir. Menurut Indah, ketinggian air saat itu mencapai 1 meter lebih.
“Namun, karena memang arus air yang besar dan banjirnya tinggi, beberapa buku-buku yang diselamatkan ada yang terjatuh dan terendam air,” tuturnya.
Dia mengatakan, kemungkinan kegiatan belajar mengajar akan dilakukan mulai besok jika keadaan memungkinkan.
Baca juga: Banjir di Jalan Kudus-Purwodadi Berangsur Turun, Kini Tinggal 60 Cm
“Iya kami mengajak anak-anak juga turut membantu bersih-bersih kelas, soalnya kekurangan tenaga. Susah cari orang yang mau bersih-bersih pada kena banjir semua juga,” ungkap Indah.
Menurutnya, pihak sekolah sudah melakukan beberapa upaya jika suatu saat banjir melanda sekolah. Salah satunya adalah dengan membuat rak etalase yang cukup tinggi.
“Sebenarnya sudah coba buat etalase yang tinggi untuk menyimpan barang kalau seandainya ada banjir, tapi yang namanya air kita nggak tahu seberapa besarnya,” bebernya.
Editor: Ahmad Muhlisin

