BETANEWS.ID, PATI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa-siswi SMA PGRI 2 Kayen, Pati. Terbaru, mereka berhasil meraih medali emas pada ajang Asean Innovative Science Environmental And Entrepreneur Fair (AISEEF) yang digelar di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang pada 5 Februari 2024 lalu.
Prestasi level internasional itu, ditorehkan siswa-siswi SMA PGRI Kayen berkat inovasi yang berhasil diciptakan. Yakni, mengolah cangkang keong emas menjadi suplemen untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ayam petelur.
Baca Juga: Kelelahan saat Bertugas, Satu Petugas KPPS di Pati Dilarikan ke Rumah Sakit
Adalah Adam Nugroho, Manis Divayanti dan Dinda Lilis Fitriani. Peserta didik ini bereksperimen untuk melakukan penelitian terhadap keong emas yang berada di sawah, yang selama ini dianggap sebagai hama bagi petani.
Adam dengan kedua temannya menemukan ide, untuk memanfaatkan cangkang dari keong emas tersebut menjadi suplemen yang diperuntukkan bagi ayam petelur.
“Jenis keong yang kami gunakan keong emas. Selain banyak ditemui di sawah, keong emas banyak merugikan petani sebab tidak bisa dibasmi dan dimakan dagingnya,” ujar Adam, Jumat (16/2/2024).
Sebelumnya, ia dan teman-temannya sibuk mencari referensi terkait dengan kandungan dari keong sawah itu. Apakah benar-benar hama, atau bisa bermanfaat.
”Semacam nanocalsium. Saat mencari referensi, ternyata mengandung banyak kalsium. Itu sangat bermanfaat,” imbuhnya.
Dari eksperimen itu, mereka berhasil meraih juara 1 lomba AISEEF 2024. Ternyata jerih-payah mereka yang dilakukan sekitar epekan untuk melakukan penelitian membuahkan hasil.
”Even itu tingkat Asean. Ada 152 tim Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand,” ungkapnya.
Dirinya menyebut, produk suplemen yang dibuat dari cangkang keong emas itu, dilakukan dengan serangkaian proses kimia.
Sehingga katanya, layak digunakan sebagai food supplement untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ayam petelur.
Sementara itu, Betty Shinta Indriani, Guru Pembimbing menyampaikan, bahwa dalam penelitian ini, sebenarnya memakan waktu agak lama, karena terkendala alat laboratorium. Sebab, untuk di sekolah maupun di Pati tidak ada alatnya untuk penelitian tersebut.
Baca Juga: Meski Ganjar Nomor 2 pada Hitung Sementara, Tapi PDIP Masih Perkasa di Pati
“Kendalanya memang di alat, sebab kita tidak punya sendiri. Memang penelitan ini, idenya dari siswa dan mereka memilih menganalisis cangkang. Karena kita tahu di sawah banyak dan petani kesulitan untuk penanganannya, ” kata Betty.
Ia menyebut, bahwa cangkang keong tersebut dibuat semacam serbuk yang sangat kecil, yakni sekitar 20 nanometer.
Editor: Haikal Rosyada

