BETANEWS.ID, PATI – Kabupaten Pati dikenal memiliki hasil pertanian yang melimpah. Pati dikenal sebagai daerah lumbung pangan di Jawa Tengah karena pertanian padi, kedelai, dan jagungnya masuk dalam komoditas strategis nasional.
Meski begitu, bukan tidak mungkin, Pati tidak lagi dikenal sebagai lumbung pangan. Sebab, profesi petani sudah banyak ditinggalkan, khususnya oleh kaum muda. Mereka lebih memilih untuk bekerja di sektor industri.
Hal tersebut sebagaimana terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Pati. Proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dalam satu tahun terakhir. Dari data sensus, ditemukan sektor pertanian mengalami penurunan secara signifikan dari sensus pertanian yang dilakukan sebelumnya.
Baca juga: Jumlah Petani Millenial di Jepara Hanya 20 Persen
Kepala BPS Pati, Bob Setiabudi mengatakan, hasil itu terlihat dari jumlah rumah tangga pertanian maupun unit usaha pertanian. Meski ada selisih berbeda, bila dibandingkan sensus pertanian di tahun 2013 lalu, keduanya sama-sama mengalami penurunan jumlah.
Disebutkan, dari rumah tangga pertanian ditemukan sebesar 191 ribu atau mengalami penurunan 15,28 persen. Jumlah itu turun dari data sebelumnya yang mencapai sebesar 268 ribu. Sedangkan unit usaha pertanian yang awalnya 189 ribu, kini turun menjadi 185 ribu atau 2,5 persen.
“Dari data ini artinya dari anggota rumah tangga yang bergerak di sektor pertanian mengalami penurunan. Seperti misalnya, awalnya ada bapak dan anak, kini hanya satu orang saja,” ujar Bob, Rabu (27/12/2023).
Bob mencontohkan, fenomena peralihan ini tercermin di Kecamatan Sukolilo. Menurutnya banyak penduduk memilih memproduksi triplek hingga bekerja di bidang konveksi. Hal ini menjadi gambaran adanya perubahan pilihan pekerjaan.
Baca juga: Tak Keren dan Kurang Menjanjikan, Generasi Muda Kudus Ogah Jadi Petani
“Kemungkinan sebab sektor pertanian tidak dapat merambah ke dunia digital. Makanya para anggota rumah tangga banyak yang beralih ke dunia industri,” imbuh Bob.
Ia berasumsi, untuk meregenerasi, perlu adanya uluran tangan dari pemerintah dalam membuat kebijakan. Terutama memunculkan teknologi yang terbaru untuk membujuk anak muda terjun ke dunia pertanian.
Editor: Ahmad Muhlisin

