BETANEWS.ID, KUDUS – Muhammad El Fito Cahya Jatmika (8), siswa kelas II SDN 6 Cendono menyumbangkan prestasi gemilang untuk Kabupaten Kudus, dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2023 tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Fito berhasil meraih juara 1 dalam cabang lomba mendongeng dengan mengalahkan perwakilan dari 35 kabupaten/kota.
Tak hanya itu, Fito juga diundang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk tampil di Jakarta.
Memiliki bakat mendongeng tentunya tidak terlepas dari kegemaran anak asli Wonogiri itu. Ia mengaku senang memiliki hobi mendongeng dan telah memulainya sejak berumur 6 tahun.
Baca juga: Siswa SDN 6 Cendono Raih Juara 1 Mendongeng FTBI 2023 Tingkat Jateng
“Senang, bangga bisa ketemu teman-teman yang lain. (Ikut lomba) karena ingin mencari pengalaman, habis ini saya mau ikut lomba lagi,” katanya saat ditemui di sekolah yang berada di Jalan Gebog-Dawe, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (29/11/2023).
Selain senang mendongeng, kegemarannya yang suka makan jenang juga menambah semangat Fito dalam mengikuti lomba. Menurutnya, mendongeng adalah hal yang seru dan menyenangkan.
“(Mendongeng) tidak susah, memang dari kecil suka mempelajari bahasa. (Selain itu) aku juga suka makan jenang,” ujarnya.
Selain berprestasi dari segi nonakademis, Kepala SDN 6 Cendono, Kaswanto, menyebut, secara akademis Fito juga terbilang anak yang pintar di kelas. Ia menjelaskan, dalam bidang akademik Fito selalu mencetak nilai terbaik di kelas dan aktif saat belajar.
“Karakternya memang periang, luwes, dan mudah bergaul, dari segi bahasa Fito punya perbendaharaan bahasa yang cukup banyak terutama bahasa Jawa dan bahasa Indonesia,” paparnya.
Baca juga: Mengenal Rafael, Siswa SDN 2 Piji yang Punya Prestasi Tingkat Nasional
Meskipun orang tua Fito sempat ragu karena usia yang terlalu muda untuk mengikuti lomba, pihak sekolah berhasil meyakinkan potensi yang dimilikinya. Ke depannya SDN 6 Cendono akan berkomitmen mengembangkan potensi siswa dalam mengikuti perlombaan lainnya.
“Ketika kita berkoordinasi dengan orang tua pada saat itu termasuk bimbang juga, karena merasa masih usia belia. Tapi karena hasil seleksi sekolah, mau tidak mau kami meminta tolong orang tua untuk saling membantu,” pungkasnya. (adv)
Editor: Ahmad Muhlisin

