Di sisi lain, Andi berpendapat protes yang dilakukan warga Desa Serutsadang terhitung janggal. Dirinya menduga dorongan protes warga bukan masalah teknis melainkan faktor nonteknis yang timbul antarwarga.
“Seumpama masalah bau seharusnya saat musim kemarau bau seperti ini tidak ada. Namun saat musim hujan baunya justru lebih banyak. Tetapi kenapa pas musim hujan justru tidak ada masalah,” imbuhnya.
Baca juga: Miskomunikasi, Petani Gabus Pati Kira Embung Kembang Kempis Jadi pada MT3
Apalagi katanya, keberadaan kandang ayam di Desa Serutsadang mempunyai peran besar terhadap desa. Dirinya menyebut, dari hasil diskusi dengan aparat desa, pemilik kandang bahkan menyumbang Rp600 juta untuk pembangunan masjid desa.
Saat disinggung mengenai sanksi, Andi tidak memungkiri ditutup. Namun baginya, kandang tersebut berdasarkan kategori budi daya sudah memenuhi syarat.
“Kalau berdasarkan aspirasi masyarakat pengen kandang ditutup. Tetapi yang bisa menutup dari perizinan, pengadilan atau pemiliknya sendiri,” imbuhnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

