31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Kirab Air Salamun Desa Jepang Kudus Diikuti 1.450 Peserta

BETANEWS.ID, KUDUS – Kirab Air Salamun yang digelar di depan Masjid Wali Al-Makmur, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus Selasa (12/9/2023), berlangsung sangat meriah. Ribuan peserta sangat antusias dihadapan pengunjung dan tamu undangan dalam acara yang digelar setiap tahunnya itu.

Berbagai macam suguhan menarik ditunjukkan pada kirab tersebut. Ada yang menampilkan tarian, atraksi barongan, dan beberapa produk UMKM yang berasal dari desa Jepang berupa kerajinan bambu.

Baca Juga: Diminta Jadi Ketua Umum Persiku, Masan Jawab Begini

-Advertisement-

Ketua panitia Tradisi Rebo Wekasan Desa Jepang, Nur Azis mengatakan, kirab air salamun yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya itu berlangsung lebih meriah. Ada sebanyak 29 peserta yang terdiri dari sekolah SD dan SMP, mushola, masjid, punden dan belik, dan pelaku UMKM yang ada di desa Jepang.

“Jadi untuk penampilan peserta ini yang bertemakan mengangkat tentang adat istiadat, budaya, dan produk kerajinan UMKM yang ada di Desa Jepang,” katanya usai berakhirnya acara kirab, Selasa (12/9/2023).

Menurutnya, jumlah total peserta yang mengikuti acara tersebut kurang lebih ada sebanyak 1.450 orang. Kirab Air Salamun itu, katanya, bagian dari rangkaian acara tradisi Rebo Wekasan yang ada di desa tersebut.

“Kirab Air Salamun ini mulai ada sejak 2009. Untuk rangkain pelaksanaan Tradisi Rebo Wekasan di Desa Jepang ini biasanya berlangsung 7-10 hari. Tapi untuk tahun ini kita mulai mulai 5-12 September 2023,” ungkapnya.

Azis menambahkan, acara puncak dalam Tradisi Rebo Wekasan yang ada di desa tersebut, ada pembagian air salamun yang rencananya akan dibagikan kepada warga masyarakat secara umum pada ‘bakdal magrib’.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah mengatakan, acara kirab yang berlangsung itu memberikan multi efek yang luar biasa untuk perekonomian masyarakat khususnya di desa Jepang.

“Sejak 2009 kirab dirintis hingga saat ini masih dilakukan secara Istikomah. Hal ini memberikan efek yang bagus untuk kemajuan perekonomian masyarakat,” tutur Tika dalam sambutannya di hadapan peserta maupun warga.

Baca Juga: Dampak Kekeringan di Jepara Kian Meluas, 9 Desa Butuh Dropping Air

Tika bahkan takjub kepada salah satu peserta yang telah tampil dengan adat istiadat yang dibawakan oleh SD 4 Jepang tersebut. Menurutnya, meraka sangat paham dan memahami tentang tradisi budaya yang ada di desanya.

“Saya sangat kersesan dengan SD 4 Jepang, bahwa mereka mencintai budaya dan paham memahami tradisi yang ada,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER