BETANEWS.ID, DEMAK – Harga gabah yang kian melambung membuat pengusaha penggilingan di Kabupaten Demak kelimpungan. Beberapa usaha bahkan terpaksa bertahan dengan cara mengurangi produksi beras.
Seperti halnya yang terjadi di UD Subur Jaya, Jalan Semarang-Demak, Desa Kalikondang, Kecamatan/Kabupaten Demak. Harga gabah sebelumnya dirasakan Rp8 ribu per kilogram. Kemudian selang beberapa hari, harga gabah turun menjadi Rp7.200 per kilogram.
Baca Juga: Dinpertanpangan Demak Pastikan Stok Beras Aman
Sekretaris UD Subur Jaya 2, Wiwik Widayanti, mengatakan dalam sehari penggilingan beras dapat menghabiskan 20 ton gabah. Akan tetapi, karena naiknya harga gabah, pengusaha hanya mampu memasok lima hingga enam ton gabah.
“Ketika harga gabah naik, suplier gabah tidak kirim. Selain itu, dari sini tidak ambil karena market pun mintanya murah,” katanya, Rabu (13/9/2023).
Wiwik menyebut, idel rendemen gabah diambil 62 persen dari hasil penggilingan. Akan tetapi, karena sulitnya gabah membuat rendemen menjadi 59 persen.
“Biasanya 10 ton gabah bisa menghasilkan 5 ton beras. Kami ambil gabahnya justru tidak dari petani Demak, tapi dari luar daerah semua, seperti Tegal, Pekalongan, Weleri Kendal, dan Ponorogo,” ujarnya.
Sama halnya dengan UD Subur Jaya. Kenaikan harga gabah juga dirasakan pengusaha penggilingan padi lainnya di Demak.
Satu diantaranya UD Munajaya di Desa Karangmlati, Kecamatan/Kabupaten Demak. Tempat penggilingan gabah terpaksa dibuka demi kelangsungan hidup karyawannya.
Baca Juga: 13 dari Total 14 Kecamatan di Demak Alami Kekeringan
“Kasihan sama karyawan, meskipun rugi dikit tidak apa-apa harus dijalani, demi karyawan. Di sini ada 36 karyawan termasuk supir,” kata Nur Azizah pemilik UD Munajaya.
Dalam sehari, UD Munajaya dapat menghabiskan 20-30 ton gabah. Akibat mahalnya gabah, membuat produksi beras hanya mampu menghasilkan 10 ton.
Editor: Haikal Rosyada

