BETANEWS.ID, DEMAK – Warga Dukuh Timbulskolo, Desa Timbulskolo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, bertahun-tahun tinggal di lingkungan rob. Mayoritas bangunan rumah warga ditinggikan dan terlihat separuh tenggelam karena tingginya air laut.
Akses jalan antar rumah warga bahkan tidak lagi berbentuk beton, melainkan hanya papan kayu sebagai penyambung aktivitas warga. Untuk menuju daratan, mereka mengandalkan perahu yang memakan jarak tempuh satu kilometer lebih.
Baca Juga: Banyak Titik Kebocoran, Perbaikan Bendung Karet Kalijajar Molor
Tidak banyak warga mampu melakukan relokasi rumah. Mayoritas penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan, memiliki penghasilan yang hanya cukup digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
“Hampir 75 persen masyarakat itu melaut, rata-rata penghasilannya itu Rp100 ribu per hari untuk kebutuhan keluarga,” kata Kasi Perencanaan Desa Timbulskolo, Mukhtar, Sabtu (16/9/2023).
Saat ini sekitar seratusan kepala keluarga, masih bertahan di Dukuh Timbulskolo. Pengurangan jumlah masyarakat dimulai sejak tahun 2019 ketika abrasi mulai menyetang wilayah tersebut.
“Sebelum kena abrasi ada dua ratus lebih kepala keluarga. Setelah kena abrasi, sebagian ada yang pindah domisili atau meninggal,” paparnya.
Untuk meninggikan rumah, warga Dukuh Timbulskolo membutuhkan waktu dua tahun menyisihkan uang mereka. Beberapa masyarakat bahkan rela mengutang ke bank atau ke saudara, agar mendapatkan tambahan modal pembangunan.
“Meninggikan rumah itu setidaknya menghabiskan uang Rp6 juta dan itu membutuhkan waktu menabung dua tahun dari hasil tangkapan ikan,” terangnya.
Meskipun sempat mendapatkan bantuan relokasi material senilai Rp50 juta dari pemerintah kabupaten, akan tetapi tidak banyak warga yang mengambil tawaran tersebut. Alasannya, tidak banyak masyarakat mampu membeli tanah dari luar wilayah Timbulskolo.
Baca Juga: Guru PAUD di Demak Honornya Naik dari Rp600 Jadi Rp1,2 Juta per Bulan di 2024
Saat ini, pihaknya sedang mengajukan 14 unit rumah apung yang rencananya dialokasikan tahun 2024. Rumah apung itu, menjadi salah satu solusi meringankan beban pembangunan tempat tinggal masyarakat terdampak rob.
“Karena air sering naik terus dari kabupaten mencari solusi membuatkan rumah apung. Kalau bisa mempercepat pembangunan rumah apung,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

