BETANEWS.ID, KUDUS – Petani di Kecamatan Undaan, khususnya di Desa Wonosoco, Berugenjang, dan Lambangan sekarang bisa sedikit bernafas lega. Perjuangan mereka agar Sungai Jeratun dinormalisasi kini telah mendapat atensi dari pemerintah.
Diberitakan sebelumnya, para petani tersebut patungan demi bisa menyewa alat berak untuk menormalisasi Sungai Jeratun. Hal itu dilakukan lantaran mereka telah mengalami gagal panen selama 4 tahun berturut-turut akibat sungai yang mengendap.
Baca Juga: Petani 3 Desa di Undaan Swadaya Normalisasi Sungai, Hartopo: ‘Itu Kewenangan Pusat’
Koordinator Daerah Irigasi Wilalung PSDA Seluna, Noor Ali mengaku sudah menyampaikan aspirasi rakyat ke pihak dinas terkait, dalam hal ini adalah BBWS Pemali Juwana.
“Kami menyerap aspirasi masyarakat kemudian kita sampaikan ke dinas. Setelah itu dinas melaporkan ke BBWS. Masalahnya saya korlap hanya menjembatani, memberi pengarahan, dan menyampaikan apa pendapat dari warga,” katanya, Rabu (13/9/2023).
Ia menjelaskan, pihaknya secara langsung mengetahui kondisi dan keadaan di area persawahan di sekitar Sungai Jeratun. Menurutnya, area persawahan di sana langganan banjir pada 6-8 tahun terakhir ini. Otomatis, para petani di sana tidak bisa menikmati hasil panen dari tanaman yang digarapnya.
“Itu sudah saya sampaikan ke Dinas. Sebab, di sana kurang lebih ada sekitar 300-an hektar lahan pertanian yang memang rutin kebanjiran. Daerah itu meliputi Desa Wonosoco, Berugenjang, dan Lambangan,” ungkapnya.
Ali mengatakan, dengan kondisi lahan petani yang selalu dihantui dengan bencana banjir di saat musim penghujan itu, diharapkan dinas terkait bisa terjun langsung, menyaksikan dan mendengarkan keluhan petani.
“Bagaimana keinginan masyarakat, bagaimana dampak kerugian saat tidak dilakukan normalisasi, dan bagaimana keuntungan jika dinormalisasi. Karena kebetulan ayah saya sendiri pernah garap dua tahun di sana, memang selalu banjir,” tuturnya.
Ia juga menuturkan, saat musim tanam pertama (MT 1), petani di sana rata-rata sampai tanam dua hingga tiga kali. Hal itu sangat disayangkan, sebab di Kecamatan Undaan diharapkan menjadi lumbung pangan di Kabupaten Kudus.
“Diharapkan khususnya Kecamatan Undaan menjadi lumbung pangan Kabupaten Kudus, itu tekad yang memang sangat kuat dari petani di daerah Undaan. Walaupun banyak kegagalan, tapi tidak pernah putus asa,” jelasnya.
Baca Juga: Geram Tak Digubris Pemerintah, Petani Undaan Patungan Keruk Sungai Jeratun
Musim tanam yang diandalkan di tiga desa tersebut, kata Ali, pada saat musim tanam kedua (MT 2). Sedangkan untuk hasil penennya tidak begitu banyak atau berkurang 20 sampai 30 persen dari MT 1.
“Semoga saja ada bantuan normalisasi dari BBWS, sehingga bisa mengurangi kebanjiran dan mengurangi luas lahan yang kebanjiran. Harapan untuk tiga desa itu bisa maksimal sesuai apa yang diharapkan oleh petani,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

