BETANEWS.ID, DEMAK – Abrasi parah yang menerjang Dukuh Bedono, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak semakin tahun mengalami perluasan. Untuk membentengi desa, masyarakat setempat terus berupaya melakukan konservasi hutan mangrove.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dukuh Bedono, Sayidi, mengatakan, penaman mangrove bahkan sudah dimulai sejak 2006. Langkah itu diawali dengan menanam tanaman mangrove di sekitar rumah-rumah warga.
“Tanaman mangrove itu sendiri bisa melindungi rumah-rumah warga dari badai angin, gelombang. Kalau tidak ada mangrove ini Desa Bedono sudah tidak ada,” katanya, Rabu (9/8/2023).
Baca juga: Dukuh Bedono, Perkampungan Terakhir yang Bertahan dari “Amukan” Rob di Sayung Demak
Tidak hanya itu, penanaman mangrove juga dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga swasta. Meskipun begitu, ancaman abrasi masih mengintai masyarakat Dukuh Bedono.
“Kerusakan ini harus kita tanami lagi agar abrasi ini semakin meluas dan berdampak untuk masyarakat Bedono,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan mangrove akibat abrasi dirasakan sejak 2019. Tidak hanya peemukiman dan tambak, wilayah yang dijadikan tempat wisata juga turut terkena dampaknya.
“Mulai tergerus mungkin n 2019 itu sekitar lima meter lalu 2020 sudah mencapai 50 meter dari titik dermaga 15-20 meter, sekarang 60-70 meter dari dermaga,” terangnya.
Baca juga: Pemkab Demak Siapkan Rp3,5 Miliar untuk Bantu Relokasi Warga Terdampak Rob
Untuk menghidupkan hutan mangrove kembali di Dukuh Bedono, Sayidi menilai butuh waktu beberapa tahun lagi untuk mengatasi kerusakanya. Selain itu, juga membutuhkan lahan yang luas dan padat untuk bisa ditanami mangrove.
“Ketika ada sedimen luas mungkin lima tahun sudah lebat sekitar dua sampai tiga meter. Kalau tidak ada sedimen ini mungkin agak lama,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

