31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Dukuh Bedono, Perkampungan Terakhir yang Bertahan dari “Amukan” Rob di Sayung Demak

BETANEWS.ID, DEMAK – Dukuh Bedono, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak merupakan salah satu pemukiman warga yang tersisa dan menetap di lingkungan terdampak rob.

Dibanding dengan enam dukuh lainnya, yakni Mondoliko, Rejosari, Tambaksari, Pandansari, Morosari, dan Tonosari, Dukuh Bedono justru memiliki tutupan vegetasi mangrove yang baik. Meskipun begitu, ancaman abrasi masih mengintai masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Mangrove di Dukuh Bedono menjadi garda terdepan melawan tingginya gelombang laut saat pasang. Hal itu terlihat di rumah-rumah warga yang penuh dengan tumbuhan mangrove.

-Advertisement-

Baca juga: Nasib Anak Tiga Desa di Demak Melawan Perubahan Iklim

Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dukuh Bedono, Sayidi, terdapat tiga jenis mangrove yang hidup di wilayahnya, yaitu avicennia marina, avicennia alba, dan rhizopora mucronata.

“Dukuh Bedono ini masih terselamatkan karena ada tanaman mangrove dan Allah SWT,” kata Sayidi saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/8/2023).

Pada 2020, luas mangrove di Desa Bedono sebesar 44,10 hektare. Sedangkan luas abrasi mencapai 669 hektare dengan luasan rob sebesar 684 hektare.

Sayidi mengatakan, saat ini terdapat sekitar 236 Kartu Keluarga (KK) yang tinggal di Dukuh Bedono.  Jumlah itu berkurang dari 600 KK yang pernah tinggal di kampung itu.

“Kebanyakan rumah-rumah warga ini kan berjejeran. Karena adanya abrasi ini rumah sudah berpencar dan ada yang pindah,” ujarnya.

Pengembalian hutan mangrove bahkan sudah digalakkan sejak 2006. Akan tetapi, upaya itu belum cukup untuk menahan abrasi di Dukuh Bedono. Tidak hanya wilayah permukiman, tambak-tambak warga juga turut terlibas.

Baca juga: Pemkab Demak Siapkan Rp3,5 Miliar untuk Bantu Relokasi Warga Terdampak Rob

“Trak yang kita kelola saat ini juga mengalami abrasi dari arah Barat karena tergerus gelombang air dari Timbulsloko arus pasang surutnya itu mengarah ke kampung kami, sehingga menggerus hutan mangrove sekitar 50 meter dari dermaga,” terangnya.

Untuk menanggulangi masalah abrasi di Dukuh Bedono, Sayidi berharap pemerintah kabupaten Demak mulai menyadari pentingnya konservasi dan pemeliharaan mangrove.

“Dukuh Bedono ini menjadi benteng pertahanan pasang surut, kalau tidak bisa diselamatkan maka dampak abrasi ini semakin meluas sampai ke desa-desa lain,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER