BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak 4.929 atau 7,9 persen anak bawah lima tahun (balita) di Jepara mengalami stunting. Masih tingginya angka tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bergerak cepat dengan mengumpulkan ratsuan bidan untuk membahas percepatan penanganan stunting.
Ia mengatakan, bidan desa dalam menjalankan tugasnya harus senantiasa semangat agar dapat mendampingi anak-anak di Jepara yang mengalami stunting.
“Hari ini kita mengumpulkan para bidan desa yang jumlahnya kurang lebih 250 orang. Salah satunya tadi kita ajak mereka bernyanyi biar mereka fresh, biar semangat terus untuk mendampingi anak-anak stunting,” katanya saat ditemui di Kantor Sekretariat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Jepara, Kamis (31/8/2023).
Baca juga: Ingat Bun, Anak Stunting Berisiko Susah Dapat Pekerjaan
Salah satu bidan desa, Ida Fitri, mengungkapkan, tantangan terbesar dalam menurunkan angka stunting yaitu terkait dengan susahnya mengubah pola pikir masyarakat. Ia menjelaskan, banyak ibu yang belum memahami akan bahayanya anak jika alami stunting. Jika sang ibu tersebut merasa bahwa gizi anaknya sudah baik, biasanya mereka enggan menerima bahwa anaknya terkena stunting.
Sebab menurutnya, yang menjadi fokus bidan desa dalam melihat anak tersebut mengalami stunting atau tidak dilihat dari tinggi badan bayi sesuai usianya.
“Kalau tingginya kurang, ini bukan kita vonis tapi orang tuanya ingin kita ajak agar setiap bulan bobot dan tinggi bayinya bisa bertambah, supaya bisa melewati masa stunting. Cuma kebanyakan para orang tua ini malu kalau anaknya dibilang stunting. Jadi pola pikir masyarakat ini yang masih menjadi kesulitan kita kalau menangani stunting di masyarakat,” kata wanita yang bertugas di Puskesmas Welahan II itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

