BETANEWS.ID, SEMARANG – Rob sudah menjadi derita musiman bagi warga Sayung, Kabupaten Demak. Kalau tidak rob yang biasa datang pada saat air laut pasang naik, kawasan ini pun juga langganan banjir.
Cerita rob dan banjir ini menjadi catatan panjang dari dampak ‘kecerobohan’ pembangunan yang lebih mementingkan industrialisasi.
Baca Juga: 4 Tahun Nunggak Retribusi, 259 Lapak Pedagang Kota Semarang Disegel
Setidaknya itulah bahasan yang diungkap dalam buku “Urip Dioyak-Oyak Banyu: Perjumpaan Manusia, Abrasi, Rob, dan Infrastruktur di Sayung” yang telah dilaunching pada 17 Juli lalu di Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang.
Buku yang disusun tim penulis Mila Karmilah, Eka Handriana, Syarifah Atia, dan Umdatin Nihayah tersebut mengungkap asal-usul rob di Sayung lewat teori perjumpaan. Mereka memaparkan perjumpaan yang merupakan relasi antara manusia dan non-manusia.
Perjumpaan pertama yang disebutkan dalam sub sub judul “Tanam Bambu Tumbuh Kerang,” menceritakan tentang alih corak produksi masyarakat setempat. Berawal dari kampanye hidup sehat di Amerika Serikat pada 1970-an, udang menjadi salah satu pemenuhan kebutuhan makanan sehat bagi negeri Paman Sam, diikuti Jepang dan Masyarakat Ekonomi Eropa. Indonesia pun menjadi pemasok utama udang windu di dua negara tersebut pertama tadi.
Ekspor udang Indonesia ini terlecut oleh peningkatan produksi udang melalui budidaya tambak, menyusul setelah peluncuran program Intensifikasi Tambak (Intam) pada 1980-an. Warga pesisir Sayung menjadi salah satu pemasok udang untuk kepentingan ekspor. Tidak sedikit petani sawah yang beralih menjadi petambak. Alih profesi ini selain karena dorongan Intam, petani Sayung juga tegiur keuntungan yang lebih besar dengan berternak udang.
Dalam masa ini, ekonomi pertambakan menjadi simbol kesuksesan bagi petambak sekaligus kehancuran wilayah Sayung yang mulai diterjang rob menyusul alih rupa lingkungan, termasuk perluasan tambak dan pembabatan mangroove.
Di bagian perjumpaan ke dua, “Rob dan Abrasi,” disebutkan tingginya abrasi di pesisir Sayung pada 1980-an membuat tambak dan pemukiman tenggelam. Desa Bedono menjadi wilayah yang pertama terdampak. Reklamasi Pantai Marina, pembangunan PRPP, dan pengembangan pelabuhan Tanjung Emas di Kota Semarang disebut-sebut menjadi faktor penyebab parahnya rob di Sayung karena perubahan arus laut dan kenaikan muka air laut. Secara bergelombang, tercatat sejak 1995 hingga 2000-an, banyak desa dan dukuh di Kota Wali tersebut yang mulai terendam rob.
Pada perjumpaan ke tiga, “Beton-Beton Raksasa” bercerita tentang pembangunan yang semakin masif sehingga semakin membawa dampak datangnya bencana rob di Sayung. Ada dua teritori pembangunan yang turut mempengaruhi dalam hal ini.
Pertama pembangunan wilayah pesisir di luar Sayung, yaitu Kota Semarang. Terkait penerapan UU Penanaman Modal Asing, beberapa perusahaan, termasuk PT Tanah Mas dan pengembang lainnya kian gencar membangun perumahan dan industri di pesisir. Pembangunan pemecah ombak disinyalir menyebabkan peningkatan rob dan abrasi di Desa Bedono, akibat limpasan air dan arus laut.
Ke dua, pembangunan di Sayung sendiri. Diperkirakan di wilayah ini telah berdiri 30-40 pabrik yang menyebabkan tanah ambles. Ini termasuk karena pabrik-pabrik tersebut menggunakan air tanah yang berujung penurunan tanah sebesar 4-12 cm/tahun. Selain dampak rob, keberadaan pabrik-pabrik tersebut juga andil dalam pencemaran tambak-tambak warga.
Sementara perjumpaan ke empat, “Pengisapan Terhadap Manusia dan Non-manusia” memaparkan sumber penghidupan masyarakat yang menghilang. Ini tergambar dari kian punahnya profesi petambak yang berbanding terbalik dengan masifnya industri.
Baca Juga: Peringatan HAN 2023 Bawa Simbol Pengayoman bagi Anak
Terakhir, perjumpaan ke lima, “Ekofenimisme, Memandang Sayung Dengan Sopan” di antaranya menyoroti reproduksi sosial yang mengalir ke dalam reproduksi kapitalis.
“Awalnya kehidupannya cukup baik. Hanya kemudian banyak penetrasi terkait dengan infrastruktur, industri, yang berdampak kepada mereka. Buku ini merupakan pengetahuan untuk warga,” jelas salah satu penulis, Mila Karmilah.
Editor: Haikal Rosyada

