BETANEWS, DEMAK – Puncak Grebeg Besar di Kabupaten Demak adalah penjamasan dua pusaka Sunan Kalijaga, yakni Kiai Cerubuk dan Rompi Ontokusumo. Petugas jamasan pun harus tirakat terlebih dahulu sebelum menjamas.
Prosesi sakral ini tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan hanya boleh dikerjakan ahli waris Sunan Kalijaga. Jamasan dimulai dengan membawa baki berisi minyak dari Pendopo Pangeran Wijil V. Diikuti para keluarga dan arak-arakan prajuri menuju makam Sunan Kalijaga.
Baca Juga: Warga Pesisir Morodemak Tolak Wacana Pengerukan Pasir Laut
Sampai di area makam, kemudian dilanjutkan dengan melakukan doa bebersama. Setelah itu, tujuh tim jamas yang terdiri dari juru kunci, panembahan, dan ahli waris memasuki area makam Sunan Kalijaga untuk melakukan prosesi penjamasan.
Juru Kunci Makam Sunan Kalijaga, Edi Mursalien, mengatakan, saat melakukan penjamasan tidak boleh dalam keadaan mata terbuka. Sedangkan para tim tujuh jamas juga diwajibkan melakukan puasa selama sembilan hari, dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga puasa Tarwiyah dan Arofah.
“Sebelum membuka kori gedung Kasunanan kita tahlil, kemudian kita buka dan melakukan proses penjamasan. Petugas-petugas yang sudah dibagi mengerjakan sesuai job, seperti memangku pusaka, mengganti bunga, dan membaluri minyak,” katanya, Kamis (29/6/2023).
Menurut Edi, pelaksanaan penjamasan ini sudah dilakukan bertahun-tahun oleh generasi pertama Sunan Kalijaga, yakni Sunan Hadi. Ia berpesan kepasa ahli warisnya, agar rutin melakukan penjamasan setiap tanggal 10 Dzulhijjah.
“Ini kami meneruskan leluhur kami yang pernah dilakukan Sunan Hadi, turun temurun sampai saat ini,” imbuhnya.
Terdapat kandungan nilai filosofi tersendiri adanya penjamasan dua pusaka Sunan Kalijaga. Edi menerangkan, penjamasan memiliki makna penyucian hati dari sifat buruk yang dapat merusak tingkah manusia.
“Filosofi penjamasan ini dalam arti merawat membersihkan dari sifat iri dengki, panastren, kesombongan, dan lain-lainnya. Hati-hati kita harus kita jaga, karena itu bisa merusak tingkah laku kita dengan keluarga, bersosialisasi, dan orang lain,” terangnya.
Untuk mendapatkan keberkahan itu, banyak dari masyarakat Demak maupun luar daerah saling berebut untuk salim dengan ahli waris Sunan Kalijaga, yang di tangannya terdapat sisa-sisa dari minyak penjamasan.
Baca Juga: Kurban Tak Pengaruhi Harga Daging Sapi di Demak
Tidak sedikit warga juga membawa keluarga maupun anak-anak mereka untuk ikut mengantri. Termasuk dengan warga asal Wedung Ahmad Satriyo. Ia mengaku setiap tahun rutin mengikuti prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga.
“Yang menarik dari prosesi itu karena ingin ngalap berkah Sunan Kalijaga, dengan harapan mendapatkan rido dari Allah khususnya masyarakat Demak, pertanian, perekonomian, dapat berjalan lancar,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

