Begini Sejarah Pelaksanaan Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi

BETANEWS.ID, JEPARA – Tradisi Perang Obor yang rutin digelar setiap tahun sebagai bagian dari kegiatan sedekah bumi di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, memiliki kisah yang bermula dari salah paham di antara dua tokoh yang dianggap sebagai leluhur atau pendiri desa.

Kepada pada Betanews.id, Kepala Desa Tegalsambi, Agus Santoso menjelaskan awal terjadinya tradisi perang obor. Dia menceritakan, ratusan tahun lalu di Tegalsambi terdapat seorang peternak kaya raya yang bernama Kiai Babadan. Ia memiliki banyak hewan ternak berupa sapi dan kerbau yang dirawat oleh Ki Gemblong.

Baca juga: Perang Obor, Puncak Sedekah Bumi Tegalsambi yang Telah Ada Ratusan Tahun

-Advertisement-

Dalam merawat hewan ternak, Ki Gemblong termasuk orang yang tekun. Setiap pagi dan sore hewan ternak tersebut diajak mandi di sungai, sehingga selalu bersih dan sehat. Saat memandikan ternak, ia melihat banyak ikan yang berada di pinggir sungai. Kemudian ia mulai tertarik untuk menangkap ikan-ikan tersebut.

Saking asiknya menangkap ikan, kata Agus, Ki Gemblong sampai lupa pada hewan ternak, sehingga hewan-hewan tersebut banyak yang terserang penyakit. Kiai Babadan yang mengetahui kondisi tersebut akhirnya mencari tahu mengapa hewan ternaknya banyak yang sakit.

Setelah mengetahui bahwa hewan ternaknya tidak lagi dirawat oleh Mbah Gemblong karena lebih asyik menangkap ikan, Kiai Babadan terpancing emosi dan menyerang Mbah Gemblong menggunakan pelepah kelapa yang dibakat.

Tidak terima diserang begitu saja, Ki Gemblong melakukan perlawanan balik menggunakan bahan yang sama dan terjadilah pertikaian. Percikan api dari bahan tersebut membakar jerami yang berada di sekitar kandang dan membuat hewan-hewan ternak lari ketakutan.

“Pada saat mereka bertikai hewan-hewan ternak tersebut lari tunggang langgang, sehingga beliau berpikir bahwa penyakit roh jahatnya sudah pergi. Beliau berwasiat kepada anak cucunya agar tetap melaksanakan perang obor untuk mengingat peristiwa tersebut, ” tuturnya.

Baca juga: Tradisi Perang Obor di Tegalsambi Jepara Digelar Meriah

Namun seiring dengan meningkatnya pemahaman agama masyarakat, tutur Agus, mereka tetap meyakini bahwa yang memberikan kesembuhan tetaplah Tuhan. Sehingga dalam rangkaian acara pelaksanaan tradisi Perang Obor tetap diawali dengan berziarah dan mendoakan para leluhur.

“Rangkaian ini juga sekaligus menjadi wisata religius bagi anak-anak muda tentang siapa yang dulu babat alas di Desa Tegalsambi,” katanya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER