BETANEWS.ID, SEMARANG – Puluhan siswa, baik laki-laki maupun perempuan seperti terhipnotis mendengarkan sebelas temannya yang terpilih membincangkan “Surga di Mana.” Perbincangan bertajuk Siswa Bersuara, Bincang Buku Surga di Mana tersebut diadakan SMA Kesatrian 2 bekerja sama Dewan Kesenian Semarang (Dekase) di gedung pertemuan sekolah, pada Kamis (23/2/2023).
Hebatnya, 11 siswa yang terpilih sebagai pembincang ternyata mampu memberikan ulasan yang menarik, baik dari segi penulisan maupun isi dan pesan cerita. Seperti salah seorang siswi yang merasa miris dengan cerita kekerasan terhadap perempuan di cerpen Surga di Mana. Ia juga menyamakan cerita tentang kekerasan guru mengaji terhadap murid perempuannya dengan kehidupan nyata, sebagaimana kasus-kasus kekerasan serupa yang pernah terjadi.
Surga di Mana adalah salah satu judul cerita pendek (cerpen) karya Sulis Bambang, penulis Semarang kelahiran Klaten. Surga di Mana tersebut digunakan pula untuk judul buku kumpulan cerpen Sulis yang berisi lima cerita dengan judul yang kesemuanya terdapat kata “surga.” Kelimanya adalah Surga yang Menggelap, Surga Orang Sebelah, Surga yang Menyesatkan, Surga Ikhlas, dan Surga di Mana.
Baca juga: Penghasilan Orang Tua Hanya Rp50 Ribu Sehari, Zaki Bersyukur Bisa Sekolah di SMK Semi Boarding
Di kumpulan cerpen ini, Sulis menceritakan imajinasinya tentang kehidupan surga yang juga berseberangan dengan neraka. Soal surga, tentunya karena ini imajinasi, Sulis secara sederhana menggambarkan kehidupan surga sebagaimana pengertian kanak-kanak yang membayangkan kehidupan surga adalah tempat yang menyenangkan setelah kehidupan duniawi.
Sulis meletakkan dua kehidupan, surgawi dan duniawi, sebagai latar cerita dalam lantunan alur cerita maju dan mundur di masing-masing cerita. Bahkan secara liar, Sulis tidak saja mengambil sudut pandang cerita dari subyek manusia. Ini seperti dalam cerita Surga Ikhlas yang mengisahkan kehidupan tikus di dunia dan di surga.
Menariknya, di tiga cerpen, salah satunya Surga di Mana, terdapat pesan moral yang mengangkat persoalan kekerasan terhadap perempuan. Menurut Ketua Dekase, Adhitia Armitrianto, tema ini menarik sebagai pembelajaran anak muda agar mereka paham tentang isu kekerasan terhadap perempuan ini.
“Meski sebagian orang berpendapat cerita tentang kekerasan dalam cerpen tampak vulgar, tapi ini adalah kenyataan yang sebenarnya kita hadapi di masyarakat kita,” jelas Adhit mengutip pernyataan seorang aktivis perempuan beberapa waktu lalu.
Baca juga: STAI Syekh Jangkung Pati Ajak 25 Sekolah Ikuti ‘Senandung Cinta Pantura’
Kepala Sekolah SMA Kesatrian 2, Suharno, merasa bangga terhadap anak didiknya di acara itu.
“Mereka tidak kalah dengan acara-acara bedah buku yang biasanya narasumbernya pakar sastra,” ungkapnya.
Senada, guru Bahasa Indonesia, Teguh Satriyo, tak kalah bangganya dengan Sang Kepala Sekolah.
“Di luar dugaan, mereka mampu mengulas buku di depan penulisnya dengan keren,” ujarnya.
Dekase, lewat komite sastra memang sering bekerja sama dengan SMA Kesatrian 2 maupun sekolah-sekolah lain untuk menumbuhkan generasi-generasi penulis dan meningkatkan minat baca tulis anak muda.
“Saat ini penulis-penulis muda di Semarang masih sedikit, oleh karena itu Dekase menyasar siswa-siswa sekolah, terutama setingkat SMA, agar menjadi penulis masa depan,” tutup Adhit.
Editor: Ahmad Muhlisin

