BETANEWS.ID, KUDUS – Anita, warga Desa Temulus RT 2 RW 1, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tampak duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Celana kain yang dikenakannya dilipat setinggi lutut karena lantai rumahnya kebanjiran setinggi betis.
Raut wajah Anita terlihat lelah. Hujan deras yang terjadi semalaman membuat Anita dan keluarganya tak bisa tidur, karena ancaman bencana banjir. Sebab, tak jauh dari rumahnya, ada Sungai Dawe yang setiap turun hujan deras, debit airnya naik dan melimpas hingga mengakibatkan banjir.
Apa yang dikhawatirkan Anita pun terjadi. Pada pukul 2.30 WIB, air banjir mulai masuk ke rumahnya, ia dan keluarganya pun kemudian menyelamatkan barang berharga.

Baca juga: Banjir di Desa Jati Wetan Kudus Diperkirakan Berlangsung Lama, Surutnya Bisa Berbulan-Bulan
“Semalaman kami tak bisa tidur. Kami sekeluarga was-was terjadi banjir setiap hujan deras turun,” ujar Anita kepada Betanews.id, Sabtu (31/12/2022).
Sementara itu, Kepala Desa Temulus Suharto mengatakan, karena hujan sepanjang malam dan hingga pagi, talut Sungai Dawe yang ada di desanya tak mampu menahan debit air. Sehingga melimpas dan mengakibatkan bencana banjir.
“Total sudah ada 50 rumah yang terendam banjir, masing-masing di RT 2 dan RT 3 RW 1. Dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter,” ujar Suharto.
Ia memperkirakan, jika hujan tak kunjung reda, bisa diperkirakan banjir akan lebih tinggi dan rumah yang terendam bisa makin banyak. Oleh karenanya, pihaknya pun mempersiapkan tempat pengungsian dan logistik.
“Untuk pengungsian, sudah kami siapkan di salah satu sekolah. Logistik juga sudah kami siapkan,” bebernya.
Dia berharap, Sungai Dawe ini dilakukan pengerukan. Sebab, sudah cukup lama sungai yang melintas di desanya itu terjadi sedimentasi. Serta talutnya juga banyak yang keropos.
Baca juga: Ketinggian Banjir di Tanjungkarang Capai 40 Cm, Banyak Motor Mogok
“Di Desa Temulus ini ada lima titik talut yang rawan jebol. Sehingga kami mohon agar segera dilakukan perbaikan. Serta pengerukan sedimentasi,” harapnya.
Sedangkan Camat Mejobo Moh Zaenuri menuturkan, Sungai Dawe ini memang sudah lama terjadi sedimentasi. Bangunan talut juga banyak yang retak sehingga memang butuh diperbaiki.
“Sejak tahun 2021, kami sudah berlapor ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk melakukan pengerukan dan perbaikan talut. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan,” ungkapnya.
Editor: Kholistiono

