Baju Batik Perca Kreasi Carea Batik yang Bisa Didapatkan dengan Harga Mulai Rp200 Ribu

BETANEWS.ID, SEMARANG – Berangkat dari masalah sampah yang semakin menumpuk, khususnya di industri fashion, Owner Carea Batik, Dinar mencoba berinovasi dengan membuat kemeja dari kain perca. Menurut warga Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang itu, sampah kain kini menduduki peringkat dua yang paling memberatkan bumi.

Maka dari itu, untuk pembuatan baju di tempatnya, ia usahakan nol sampah sehingga sebisa mungkin memanfaatkan kain yang sudah tidak terpakai. Salahs atunya adalah membuat pakaian dari kain perca.

“Daripada kebuang dan memberatkan bumi, ya kita kelola perca saja dan lebih peduli ke bumi. Temannya adalah sustainable, ” katanya saat ditemui dalam acara Semarang In Your Hands di Wisma BP Dikjur, Kamis (8/12/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Batik Karya Warga Binaan Lapas Perempuan Semarang Terjual hingga Mancanegara

Tak hanya dari permasalahan sampah, Dinar mengaku ide baju kain batik perca ini muncul karena ia juga tergabung dalam komunitas perca dan fashion. Dinar sendiri sudah menggeluti dunia fashion sejak 2019, sedangkan berinovasi menggunakan kain perca mulai 2021.

Bagi dia, motif batik yang menggabungkan kain perca itu terlihat fress dan sangat cocok untuk segmen anak muda.

“Kalau batik-batik aja, kesannya seperti ketuaan.  Kombinasi seperti ini lebih seger dan untuk segmen anak mudah sangat masuk, ” ucapnya.

Mengenai produk yang ia hasilkan, Sementara ini hanya untuk khusus wanita saja, seperti baju atasan, outer, dan bawahan. Saat ini, pelanggannya tak hanya dari Semarang saja, melainkan sudah ke berbagai daerah di Indonesia.

“Penjualan masih Indonesia saja sih. Dalam arti, pameran-pameran masih paling Jawa Tengah. Tapi, kalau penjualan segmen kota-kota besar seperti Semarang, Jakarta, dan Surabaya,” jelasnya.

Baca juga: Angkat Potensi Pertanian Desa Lewat Motif Batik Mlatiharjan yang Penjualannya Hingga Luar Jawa

Dinar menambahkan, harga batik perca yang ia jual itu dibanderol mulai Rp200 ribu hingga Rp 500 ribu. Ia juga mengaku, batiknya masih menggunakan batik cap. Sebabnya, jika gunakan batik tulis harganya cukup mahal.

“Kalau batik saya pakai cap, karena tulis itu masih mahal. Dan saya enggak pakai printing dan lebih menghargai pengerajin ya, ” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER