BETANEWS.ID, KUDUS – Suara pembacaan Alquran terdengar cukup keras dari halaman rumah Umi’ah (94) di Dukuh Madaran RT 4 RW 1 Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Setelah bacaan kitab suci, kemudian dilanjut dengan senandung barzanji yang diiringi dengan terbang papat. Tampak di depan rumah Umi’ah itu, berkumpul puluhan pria dan wanita yang mengenakan baju putih. Mereka adalah para ahli waris yang mengikuti tradisi Angon Putu.
Setelah ada ceramah dari kiai, para keturunannya itu kemudian melakukan acara sungkeman kepada Umi’ah. Satu per satu dimulai dari anak paling tua hingga canggah. Di acara sungkeman tersebut, Mbah Umi’ah juga memberi uang saku kepada mereka.

Setelah acara sungkeman selesai, kemudian dilanjut ke acara inti yakni Angon Putu. Semua anak dan cucunya berkeliling kampung mirip dengan kirab, dengan Mbah Umi’ah membuntuti di belakangnya dengan naik becak dengan menggenggam pecut.
Baca juga: Punya 28 Cucu, 26 Cicit, dan 1 Canggah, Mbah Umi’ah Adakan Tradisi Angon Cucu yang Hampir Punah
Terlihat sesekali Umi’ah diarahkan agar menggerakan pecutnya seperti orang angon. Setelah berkeliling kampung dan akan mendekati rumah lagi, semua anak turun kemudian jajan menggunakan uang yang diberikan oleh pepundennya.
“Angon Putu ini kan filosofinya senang. Jadi para keturunan Mbah Umi’ah diberi uang sebelum diangon. Agar anak, cucunya bisa jajan dan senang,” ujar salah satu cucu Mbah Umi’ah yakni Muhammad Ardiansyah kepada Betanews.id, (8/10/2022).
Pria berusia 27 tahun itu mengatakan, Umi’ah yang sudah berusia 94 tahun telah dikaruniai 11 anak, 28 cucu, 26 cicit, dan 1 canggah. Karena memiliki 28 cucu itulah maka diselenggarakan tradisi yang hampir punah yakni Angon Cucu.
Baca juga: Karnaval Budaya Meriahkan Tradisi Meron di Sukolilo Pati
“Sebab syarat tradisi Angon Cucu itu harus memiliki lebih dari 21 cucu. Ada juga yang yang bilang harus punya 25 cucu. Alhamdulillah nenek kami memiliki 28 cucu, jadi sudah memenuhi syarat,” bebernya.
Dengan syarat harus memiliki 21 cucu tersebut lah, yang menjadikan tradisi Angon Cucu hampir punah dan jarang sekali diselenggarakan. Sebab di zaman sekarang, jarang sekali orang yang mempunyai anak banyak, atau pun cucu puluhan.
“Karena itulah tradisi Angon Putu hampir punah dan jarang sekali diselenggarakan. Kami bersyukur eyang kami bisa menggelar tradisi Angon Putu yang langka dan hampir punah ini,” beber cucu ke 11 dari Umi’ah tersebut.
Editor: Ahmad Muhlisin

