Jam Terbang Tinggi, Buruh Batil Rokok di Kudus Bisa Hasilkan Seribu Batang dalam Sejam

BETANEWS.ID, KUDUS – Lebih dari 100 perempuan terlihat sedang sibuk di salah satu pabrik rokok yang ada di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus. Mereka duduk berjajar dengan alat pelinting tradisional dari kayu di depannya. Tangan mereka terlihat lihai dan cepat mengoperasikan alat rersebut. Mereka adalah buruh batil, pembuat rokok sigaret kretek tangan (SKT).

Tangan-tangan buruh tersebut bergerak solah punya mata. Tangan kanan ambil kertas papir yang bagian ujungnya sudah dibaluri lem dan selipkan ke alat, lalu tangan kirinya menyusul menaruh racikan tembakau di kertas papir, dengan cepat pegangan alat ditarik dan sudah jadi satu batang rokok kretek tangan.

Satu persatu batang rokok kretek tangan pun menumpuk. Sedangkan rekan lain bertugas merapikan hasil lintingan rokok menggunakan gunting.

-Advertisement-

Baca juga: Pengusaha Rokok Kecil Keluhkan Produsen Kelas Satu yang Juga Produksi Rokok Murah

“Namanya kerja borong harus cepat. Satu jam biasanya saya bisa dapat 1.000 batang.  kalau sampai pukul 13.00 WIB biasanya menghasilkan 5 ribu batang,” ujar salah satu buruh rokok, Jamasri kepada Betanews.id, Jumat (10/6/2022).

Sembari terus bekerja, warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu bercerita, sudah puluhan tahun bekerja batil rokok. Sebelum kerja di PR Rajan Nabadi yang ada KIHT, Jamasri mengaku dulu lama jadi buruh batil di PR Jambu Bol.

“Saya kerja batil rokok itu sudah 37 tahun. Di sini lima tahun, sebelumnya aku lama kerja batil di PR Jambu Bol yang di Ngembalrejo,” bebernya.

Dia mengatakan, untuk mahir batil rokok memang butuh waktu. Bahkan dia butuh waktu dua bulan agar bisa cepat seperti sekarang ini. Sedangkan kendala yang dihadapi adalah, jika racikan tembakaunya terlalu kering dan lemnya terlalu encer akan susah dilinting.

“Jika tembakaunya kering dan lemnya encer itu susah untuk dilinting, sehingga memperlambat pekerjaan. Ini kan kerja borong harus cepat. Untuk upah Rp27 ribu per seribu batang,” ungkapnya.

Baca juga: Kasus Covid Melandai, Industri Rokok Kecil di Kudus Semakin Bergeliat

Pengelolo PR Rajan Nabadi yakni Nugraha mengatakan, saat ini buruh linting rokok sigaret kretek tangan di PR Rajan Nabadi ada sekitar 160 orang. Hampir semuanya digaji dengan sistem borong.

“Satu orang itu biasanya bisa produksi 5 ribu batang, jam kerja mulai 5.30 WIB sampai 13.00 WIB. Total semua bisa produksi sekitar 100 ribu batang sehari,” ujarnya.

Namun, jumlah produksi itu tak menentu. Sebab tergantung juga sama buruh yang masuk. Menurutnya, sistem kerja buruh di perusahaan rokok kecil tidak mengikat. Berbeda dengan perusahaan rokok besar yang sistemnya absensi.

“Saat buruh yang masuk banyak, produksinya juga banyak. Jika buruh yang masuk sedikit otomatis produksinya juga sedikit. Namun, rata per orang itu bisa produksi 5 ribu batang sehari,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER