31 C
Kudus
Minggu, Juni 26, 2022
spot_img
BerandaKUDUSDiserang Virus Kuning,...

Diserang Virus Kuning, Seratusan Petani Cabai Desa Kesambi Merugi hingga Puluhan Juta

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 150  petani di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengalami kerugian hingga puluhan juta karena tanaman cabainya diserang penyakit bulai atau virus kuning.

Ketua Kelompok Tani Karya Tani Kesambi, Surahman menjelaskan, dampak virus ini adalah buah yang tumbuh menjadi sedikit dan bunga bakal cabai juga mudah rontok. Bahkan, penyakit ini tidak hanya menyebar di pohon cabai yang sudah siap panen, tapi juga menyerang pohon yang masih kecil.

Hama bulai kuning yang menyerang tanaman cabai petani di Desa Kesambi. Foto: Kartika Wulandari.

“Hama ini sifatnya menular, jadi kalau satu sudah terkena, ya nanti sebelah-sebelahnya bisa kena juga,” beber dia, Selasa (14/6/2022).

- Ads Banner -

Baca juga: Semringahnya Petani Cabai di Kudus Kala Harga Cabai Selangit

“Meski harga cabai kini tengah meroket, sebagaian besar kebun milik petani Kesambi malah terkena hama. Hama ini yang membuat kita rugi, ” ujarnya.

Menurutnya, jika pohon terserang virus kuning, pertumbuhannya menjadi lambat, dan buah yang dihasilkan sedikit. Akibatnya, mereka harus mengeluarkan tambahan modal untuk membeli obat.

“Dan ini semakin parah karena curah hujan bulan ini masih tinggi. Jadi setelah tumbuhan kita kasih obat malah terguyur air, obatnya jadi hilang, jadi sia-sia,” keluh Surahman.

Surahman melanjutkan, jika biasanya masa panen petani bisa menghasilkan dua sampai empat kuintal, tapi saat ini petani hanya bisa memanen lima sampai 10 kilogram saja. Cabai itu dijual dengan harga Rp50 ribu per kilogram untuk cabai merah dan Rp30 ribu per kilogram untuk cabai hijau.

Baca juga: Harga Cabai Setan di Pasar Tembus Rp 95 Ribu per Kg

“Biasanya kalau masa panen begini petani bisa balik modal, tapi tahun ini saya sendiri pun belum balik modal. Sekarang panen saya hanya dapat uang Rp5 juta kurang. Modal saya kemarin Rp20 juta untuk beli bibit, pengolah tanah, semprot pupuk, dan bayar pekerja,” ucapnya.

Pihaknya pun berharap, karena banyaknya petani yang mengalami kerugian, pihak pemerintah kabupaten bisa memberikan solusi.

“Harapanya ada solusi dari Pemkab, entah itu bantuan bibit atau semacamnya. Kita sudah sempat lapor PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), tapi belum ada tindak lanjutnya,” tandas Surahman.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler