BETANEWS.ID, SEMARANG – Selain Covid-19, Demam Berdarah Dengue (DBD) kini menjadi teror warga Kota Semarang. Data Dinas kesehatan setempat, sampai saat ini sudah ada 73 warga terkena penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam merinci, dari 73 pasien itu, 44 orang berjenis kelamin laki-laki dan 29 lainnya adalah perempuan.
“Untuk itu, warga Kota Semarang harus waspada,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Jumat (28/1/2022).
Menurut Hakam, banyaknya kasus demam berdarah di Kota Semarang harus menjadi perhatian oleh pemerintah dan warga. Pihaknya akan menjadikan ini sekala prioritas untuk segera ditangani. “Harapannya ini bisa menjadi prioritas,” ujarnya.
Baca juga: Kasus DBD Meningkat, Puskesmas Ngembal Kulon Adakan ‘Fogging’ di Perkampungan
Menurutnya, demam berdarah tak kalah berbahaya dengan Covid-19. Pihaknya akan melakukan edukasi kepada warga dan aparat pemerintahan paling bawah untuk mengedukasi warga soal penanggulangan demam berdarah.
“Kalau demam berdarah edukasinya harus kencang sepeti Covid-19.” katanya.
Pihaknya akan segera memetakan mana saja daerah yang masuk dalam zona merah. Menurutnya, demam berdarah mempunyai masa inkubasi lebih cepat dibandingkan dengan Covid-19 terlebih ketika musim hujan.
Baca juga: DBD Mengintai, Ini Tips Dinas Kesehatan Agar Aman dari Penyakit Mematikan Itu
“Kalau demam berdarah masa inkubasinya 7 hari kalau Covid-19 bisa 2 minggu,” paparnya.
Sampai saat ini, wialayah yang masuk dalam zona merah kasus demam berdarah adalah Kecamatan Mijen dan Kecamatan Kedungmundu.
“Jadi kalau ada genengan air di dalam maupun di sekitar rumah harus segera dibersihkan,” pesannya.
Editor: Ahmad Muhlisin

