31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaBisnisOrderan Sepi Karena...

Orderan Sepi Karena Pandemi, Tukang Kayu Ini Banting Setir Jualan Durian di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Lalu lalang kendaraan di Jalan Lingkar Utara Kudus siang itu begitu ramai. Di tepi jalan tersebut tampak mobil pikap berisi durian. Di sampingnya terlihat sepasang suami istri muda sibuk merapikan puluhan durian, sembari menunggu pembeli. Pria tersebut yakni Abdul Ghosah (27).

Sembari menunggu pembeli, dia pun sudi berbagi kisah tentang usaha jualan buah berkulit keras berduri itu. Abdul mengatakan, mulai jualan durian sejak tiga bulan yang lalu. Itu merupakan upayanya bertahan hidup setelah pekerjaan jadi tukang kayu sepi orderan selama pandemi.

Durian yang dijual Abdul di lapaknya di Jalan Lingkar Utara Kudus sembari menunggu pembeli. Foto: Rabu Sipan.

“Sebelum jualan durian, saya itu tukang kayu. Namun karena pandemi, ekonomi di Jepara hancur, orderan pun sepi. Oleh sebab itu untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilku, saya jualan durian,” ujar Abdul kepada Betanews, Jumat (15/10/2021).

- Ads Banner -

Baca juga: Puding Hampers Mama Akma, Solusi Mudah Kirim Hadiah ke Saudara atau Teman

Pria asal Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara itu jualan durian menggunakan mobil pikap. Sebelum di Kudus, ia dulunya jualan di Pasar Bintoro Demak. Namun, karena di sana sudah banyak yang jualan durian, sejak sepekan yang lalu ia memutuskan untuk jualan durian di Kudus.

“Saya jualan durian di Kudus baru sepekan. Sebelumnya saya mangkal di Pasar Bintoro Demak. Sebenarnya di sana laris, tapi karena di sana sudah banyak pesaing saya pun pindah ke Kudus,” ungkapnya yang diamini oleh istrinya.

Setiap hari, Abdul mengaku membawa 40 sampai 100 buah durian. Ada dua jenis durian yang dijualnya yakni durian Petruk dan durian lokal. Untuk harga mulai Rp 35 ribu hingga yang paling mahal Rp 175 ribu per buahnya. Menurutnya, sepekan jualan durian di Kudus lumayan laris.

Baca juga: Es Durian Klepon, Sensasi Rasa Unik dan Berbeda yang Cuma ada di Dapoer Gentong

“Sepi-sepinya saya masih bisa mendapatkan omzet Rp 550 ribu sehari. Kalau ramai terkadang juga bisa mendapatkan Rp 2 juta,”  bebernya.

Meski lumayan laris, tapi jualan durian tetap dijadikan sampingan. Ia masih berharap orderan jasa pertukangan kayunya ramai lagi. Sebab dunia pertukangan kayu sudah ia tekuni sejak 2015, dan ia sudah mencintai pekerjaannya tersebut.

“Harapan saya order jasa tukang kayu ramai lagi. Serta jualan durian ku juga makin laris, saya juga menerima pesanan durian dalam jumlah banyak,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler