Tumbuhnya Perajin Gula Rakyat

Bersamaan dengan tumbangnya pabrik gula milik BUMN, pabrik gula rakyat juga tumbuh cukup besar seiring kebutuhan konsumsi gula merah untuk industri kecap dan roti. Di Kudus saja, menurut data Perkumpulan Petani dan Perajin Tebu Rakyat Indonesia (P3TRI), September, 2021, 1000 perajin gula merah tebu (tumbu) kapasitas produksi 8 ribu ton tebu perhari/TCD (ton cane perday) mampu memroduksi 1.200 ton gula merah pertahun.

Sebagai perbandingan, Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus berkapasitas produksi 3.500 TCD hanya menghasilkan produksi gula pasir 525 ribu ton pertahun. Jika dikumulasi, kapasitas perajin gula rakyat lebih besar 2,29 kali dari kapasitas PG Rendeng.

Sedangkan, secara ekonomi, omset usaha gula tebu rakyat di Kudus mencapai Rp.1,02 triliun pertahun dengan asumsi harga rerata Rp.8.000 perkilogram. Angka yang tidak sedikit. Ia setara 57% dari APBD Kudus 2020 sebesar Rp.1,8 triliun.

Angka-angka itu sekaligus menunjukkan, produksi gula rakyat relatif lebih efisien dibanding pabrik gula milik PTP-BUMN. Perajin gula tebu rakyat juga lebih mandiri dibanding pabrik gula plat merah, yang setiap periode mendapat pasokan modal dari pemerintah.

- advertisement -

Meski demikian, inovasi teknologi dan peningkatan pengetahuan petani dan perajin gula tebu rakyat masih jauh dari harapan. Produksi tebu, misalnya, setiap tahun terus mengalami kemerosotan dari 100 ton perhektar menjadi 70 tin perhektar saat ini. Beberapa penyebabnya antara lain: kondisi tanah makin tak subur karena penggunaan pestisida sintetik yang berlebihan, sistem irigasi yang rusak, kualitas bibit tidak unggul, serta penanganan budi daya yang serampangan.

Di kalangan perajin, banyak inefisiensi proses produksi yang masih bisa ditekan melalui revitalisasi mesin, peningkatan kompetensi untuk menaikkan kualitas hasil produksi, dan inovasi produk. Dan satu yang penting, upaya meningkatkan posisi tawarnya yang rentan di mata tengkulak dan pedagang besar gula.

Menciptakan Freire Baru

Pendek kata, masih banyak yang perlu diurus untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan perajin gula tebu rakyat. Pada bagian yang berkaitan dengan problem struktural, mulai revitalisasi mesin, pembenahan sistem irigasi, penyediaan varietas unggul, inovasi produk, penataan harga jual, biarlah diserahkan kepada pemerintah, pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Sedangkan, upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan agar para petani dan perajin “melek kahanan”, semua berkepentingan untuk melahirkan Freire baru yang bisa menggerakkan perubahan cara berpikir para pelaku dari keterpurukannya sekarang.

Freire baru harus turun ke tengah ladang dan pabrik gula tebu untuk mendampingi para petani dan perajin gula keluar dari ketergantungan dan stagnasinya saat ini.

Salam dongeng!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini