Penulis: Hasan Aoni

Pendiri Omah Dongeng Marwah

Di perkebunan tebu yang rindang di Brasil pada 1962, Freire menerapkan untuk pertama kali metode pengajaran berbasis komunitas untuk kaum miskin. Melalui pemutaran film, slide, dan poster, ia menyulap 300 buruh tani yang tak bisa membaca menjadi melek huruf hanya dalam waktu 45 hari.

Atas keberhasilannya, metode itu dijadikan sebagai program nasional pemberantasan buta huruf oleh Pemerintah Brasil. Presiden Joao “Jango” Goulart menunjuk Freire untuk memimpin gerakan ini.

Minggu, 19 September 2021, lalu, adalah satu abad kelahiran Paulo Freire. Ia lahir di Recife, kota metropolitan terbesar kelima di Brasil, 19 September 1921. Freire dikenal sebagai Bapak Pendidikan Pembebasan. Dunia merujuk namanya untuk setiap upaya penerapan pendidikan yang memerdekakan siswa dari belenggu guru dan sekolah, dan kurikulum. Ia menghembuskan nafas terakhir di Sao Paulo, Brasil, pada 2 Mei 1997.

- advertisement -

Catatan ini mencoba mengulas upaya yang dilakukan Freire untuk perubahan sosial di kalangan petani tebu melalui pendidikan yang membebaskan, serta mencoba menghubungkan dengan kondisi petani dan perajin tebu rakyat di Indonesia saat ini.

Pendidikan yang Membebaskan

Melek huruf adalah syarat yang diterapkan oleh pemerintah Brasil kepada masyarakat yang akan ikut berpartisipasi dalam Pemilu. Dan Freire mengubahnya dalam waktu yang singkat di tengah kebun tebu. Ia tak saja membuat kaum miskin mampu mengeja huruf dan angka, tetapi juga keadaan. Di kepala Freire, pendidikan harus bisa mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan.

Tetapi, itu tak mungkin berhasil jika metode pengajaran masih menempatkan murid sebagai objek, dan bukan subjek. Murid menurutnya bukan bejana kosong yang bisa diisi sekehendak guru. Ia mengritik dan terus mengampanyekan pendidikan yang membebaskan untuk mengubah kemiskinan dan kebodohan menjadi kesejahteraan.

Freire memulai karirnya sebagai guru di sekolah dan tidak memilih praktek pengacara meski ia lulusan terbaik di bidang hukum. “Critical consciousness” atau kesadaran kritis adalah kredonya yang terkenal dalam pendidikan. Pendidikan harus menciptakan kesadaran kritis bagi para murid. Tanpa itu, sekolah dan perguruan tinggi tak ubahnya seperti “bank pendidikan”, yang hanya menghasilkan “manusia pengiya” alias “yes man”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini