31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Hutan di Pegunungan Patiayam Kritis, Butuh Penghijauan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kondisi hutan di Pegunungan Patiayam yang kini kondisinya gersang, menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Di lokasi seluas 655 hektare tersebut, kini sudah tak banyak lagi tumbuhan keras, akibat penebangan liar.

Camat Jekulo Wisnu Broto Purnawarman berharap, gunung yang menyimpan banyak sejarah tersebut bisa kembali hijau. Sehingga, bisa menjadi sumber oksigen, menjadi tempat infiltrasi dan melindungi daerah di bawahnya dari bencana banjir.

“Di sini, juga ada Waduk Logung. Kalau sampai Patiayam jadi semakin gundul, sedimen di waduk jadi tinggi. Kalau sudah tinggi, jadi membahayakan masyarakat sekitar. Manfaatnya mungkin hanya dalam jangka waktu dekat. Mungkin 5-10 tahun sudah tidak bisa digunakan,” ujarnya.

-Advertisement-

Baca juga : Banyak Ditemukan Fosil Jenis Bovidae, Museum Patiayam Lakukan Konservasi Fosil

Untuk itu, penting sekali adanya penghijauan Pegunungan Patiayam untuk menyangga Logung.

Menurutnya, upaya penghijauan sudah sering dilakukan Wisnu bersama dengan banyak pihak. Namun, dirinya tetap meminta kepada semua masyarakat untuk merangkul semua stakeholder di Kudus.

“Satu visi dan misi untuk masa depan, bukan hanya untuk masa sekarang. Khususnya untuk masa depan Kudus dan Jekulo,” imbuhnya.

Pegunungan Patiayam, cerita Wisnu, masih memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Mulai dari peninggalan sejarah, seperti belasan gua, jalan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda, hingga potensi alam lainnya yang luar biasa.

“Di Patiayam ada cerita-cerita rakyatnya. Ada tempat-tempat tertentu yang belum sempat dikelola dengan baik. Pesona alamnya itu luar biasa, cuma belum tergarap,” ungkapnya.

Keadaan Gunung Patiayam yang memprihatinkan ini, disebut sudah terjadi sejak tahun 1999 silam. Abdul Halim (51), Staf Kepala Desa Terban menceritakan, sejak sekitar tahun 1999 banyak pohon keras, seperti jati, banyak ditebang sembarangan. Sempat ada aturan, bagi yang menebang pohon sembarangan akan dimasukkan penjara. Namun, karena terlambat, kini Gunung Patiayam terlihat sangat memprihatinkan. Gundul, gersang dan panas.

“Pihak desa sudah berupaya memberi masukan atau bantuan yang dikelola oleh BUMDes dan kabupaten. Beberapa waktu lalu, juga ada bantuan tanaman keras seperti alpukat, jambu, dan lainnya,” jelas Halim.

Namun, kesadaran masyarakat untuk menanami gunung dengan tanaman keras, katanya minim. Masyarakat lebih memilih menanami gunung dengan tanaman yang bisa cepat dipanen. Misalnya pohon jagung yang bisa langsung dipanen dalam waktu singkat.

Baca juga : Jejak Makhluk Purba di Museum Patiayam

“Pihak desa terus menerus memberi masukan dan arahan agar hutan Patiayam hidup kembali dan rimbun kembali,” harapnya.

Halim melanjutkan, masyarakat Desa Terban masih memiliki hak 30 tahun untuk mewujudkan hal tersebut. Sebab, selama itu pemerintah memberikan izin pemanfaatan hutan perhutanan sosial (IPHBS) selama 30 tahun kepada masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola gunung tersebut.

“Jika masyarakat tidak mengindahkan aturan itu, nantinya SK ditarik kembali dan dibuat hutan lindung,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER