BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Veteran, tepatnya di Desa Glantengan, Kecamatan Kudus, terlihat gerobak dengan plastik bergelantungan berisi buah dengan air warna oranye. Seorang pria di sana tampak sedang memotong buah menjadi kecil-kecil lantas dimasukan ke dalam wadah mika. Ia adalah Marjuki (39), penjual manisan dan rujak.
Sembari memotong buah, ia bersedia berbagi informasi tentang penjualannya. Dia mengatakan, mulai berjualan rujak sejak 8 tahun lalu saat memutuskan merantau ke Kudus bersama keluarganya. Meski penjualan menurun sejak pandemi, ia tetap semangat mendorong gerobaknya berkeliling demi istri dan empat anaknya.

“Penjualan saat ini menurun drastis lantaran pandemi. Dulu sehari bisa terjual 60 hingga 70 porsi. Saat ini paling ramai ya 35 porsi,” beber pria yang akrab disapa Juki kepada betanews.id, Rabu (30/6/2021).
Baca juga: Pelanggan Sampai Antre Demi Mencicipi Rujak Es Krim Pak Yitno
Ia menyebutkan, dalam penjualan rujak miliknya itu, ia menyediakan beberapa buah untuk dijadikan manisan maupun rujak. Adapun buah tersebut di antaranya adalah mangga, bengkoang, timun, pepaya, nanas, kedondong, jambu, belimbing. Harga seporsinya juga terjangau yakni Rp 10 ribu.
“Sebenarnya ya pengen berjualan yang lain, di antaranya ya bakso atau makanan yang siap saji. Namun, saya belum memiliki modal untuk berjualan jajanan tersebut. Di samping itu juga saya sudah memiliki empat anak dan masih kecil-kecil,” papar warga Cirebon yang merantau selama 8 tahun di Kudus itu.
Baca juga: Mantau, Makanan Khas Balikpapan yang Kini Sudah Tersedia di Kudus
Ia menuturkan, alasan dirinya berjualan rujak tersebut, lantaran setelah lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) itu sudah merantau berjualan rujak dengan ikut orang lain. Karena tidak memiliki ijazah dan ketrampilan lain, ia hanya bisa berjualan rujak.
“Saya ikut orang lain itu sudah selama 10 tahun, pikir saya gini, bos yang masih bisa menggaji saya pasti ada lebihannya. Dari itu lalu saya mulai mengumpulkan uang buat gerobak jualan sendiri yang nantinya lepas dari ikut orang lain,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

