DKK Kudus Belum Bisa Pastikan Lonjakan Kasus Covid-19 di Kudus Karena Varian India

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus belum bisa memastikan bahwa terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Kudus disebabkan karena varian B16172 atau delta dari India.

Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo mengatakan, varian delta penularannya lebih hebat dan gejala yang dialami pasien dan berbeda dari biasanya. Pihaknya kini juga akan mengirimkan sampel genome yang berasal dari pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan sudah divaksin dua kali. Terkhusus bagi tenaga kesehatan yang sudah divaksin dua kali dan masih bisa terpapar virus.

Baca juga : 45 Warganya Positif Covid-19, Kades di Jepara Lapor ke Ganjar Soal Pabrik Tak Taat Prokes

-Advertisement-

Selain mengirimkan sampel dari tenaga kesehatan, Badai juga akan melakukan tracing kepada kontak erat 28 spesimen yang sebelumnya terpapar Covid-19 varian delta. Perbandingannya minimal 1:10, di mana setiap satu spesimen akan dicari 10 orang yang diduga melakukan kontak erat dengan para pasien.

Dengan hal itu, pihaknya berharap bisa memperoleh jawaban siapa yang menjadi sumber penularan pertama varian virus India tersebut.

“Kita sedang mencari mereka yang kontak erat dengan pasien. Apakah yang kontak erat itu sebagai penular pertama, lalu apakah dia sudah melakukan perjalanan atau tidak,” katanya.

Dari semua sampel yang dipersiapkan, DKK akan mengirim semuanya ke Laboratorium yang berada di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta untuk dilakukan pengetesan Whole Genome Sequencing (WGS).

Pada kasus sebelumnya, Badai menjelaskan, mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 varian delta akan mengalami gejala covid-19 yang berbeda dari biasanya. Yang paling terlihat dengan kasat mata, mata seseorang yang terpapar varian delta memerah seperti orang yang kelelahan. Tubuh lemas, batuk kering, hingga seluruh tubuh merasa panas, berbeda dengan gejala orang sakit biasanya.

Baca juga : Ganjar Pastikan Ada Covid-19 Varian India di Kudus yang Menular Sangat Cepat

Jika varian ini menyerang orang yang belum pernah divaksin, Badai mengatakan, gejala yang timbul bisa jadi lebih parah dari mereka yang sudah divaksin.

“Kalau sudah divaksin, daya tahan tubuh mereka relatif lebih baik dari yang belum divaksin. Jika mereka belum divaksin, kemungkinan bisa menimbulkan akibat yang lebih fatal jika terpapar varian delta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER