BETANEWS.ID, SOLO – Melonjaknya jumlah pasien Covid-19 di Solo Raya membuat ruang isolasi di rumah sakit di Kota Solo semakin penuh. Meski kapasitas sudah ditambah, kini bed occupancy rate (BOR) RS di Solo mencapai 92 persen.
Di RSUD dr Moewardi (RSDM) Solo yang saat ini menjadi RS rujukan Covid-19 utama untuk pasien Solo Raya, sampai mendirikan sejumlah tenda untuk antrean pasien karena banyaknya pasien masuk.
Baca juga : Gibran Tegaskan Solo Tidak Pernah Tolak Pasien dari Luar Daerah
Terkait hal ini, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka berencana akan memindahkan pasien ke Rumah Sakit Lapangan milik TNI yang berada di Benteng Vastenburg Solo.
“BOR di Solo dari dulu memang tinggi, apalagi kita memang menerima pasien-pasien dari luar kota. Kalau Moewardi ini, memang sudah sangat penuh, makanya kemarin saya berkoordinasi juga dengan Bu Risma, dan dari Kemensos kemarin sudah membantu velbed. Ini juga mau ditambahi lagi ,” ujarnya, Senin (28/6/2021).
Bantuan berupa velbed yang telah diterima dari Kemensos itu, kemudian disebar ke beberapa rumah sakit di Solo.
Meskipun sudah menerima tambahan velbed, rumah sakit di Solo masih mengalami kelebihan kapasitas pasien. Menurut Gibran, hal itu karena banyaknya pasien yang berasal dari luar Solo.
Karena hal tersebut, Gibran mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan Komandan Korem 074/Warastratama Solo, Kolonel Inf Deddy Suryadi untuk penambahan tenda yang akan digunakan untuk merawat pasien di Rumah Sakit Lapangan milik TNI.
“Rencananya, jika rumah sakit penuh, pasien akan dipindahkan ke Rumah Sakit Lapangan, biar bebannya tidak hanya di RS Moewardi saja, nanti di support oleh Rumkitlap,” paparnya.
Baca juga : Hadiri Vaksinasi Massal yang Digelar Polresta Solo, Gibran: ‘Yang Belum Kebagian Jangan Takut’
Gibran juga merasa geram, karena banyak pasien dari luar daerah yang langsung datang ke rumah sakit. Seharusnya pasien harus mendaftar dengan SISRUTE (Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi) untuk mendapatkan penanganan.
“Kemarin, saya kadang-kadang protes pasien dari luar kota, tidak ada rujukan. Diantar oleh mobil pribadi kelurga, itu kan nggak boleh. Tapi sekali lagi ini kan masalah kemanusiaan ya, semua pasien kami terima,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

