31 C
Kudus
Minggu, Juli 21, 2024

Permintaan Jajanan Tradisional Naik Hingga Tiga Kali Lipat Jelang Ramadan

BETANEWS.ID, PATI – Memasuki bulan Ramadan, permintaaan jajanan tradisional meningkat hingga tiga kali lipat. Seperti halnya yang dialami oleh produsen jajanan tradisional yang ada Desa Pagerharjo RT 01 RW 03, Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

Produsen Jajanan Tradisional, Muhamad Hadi mengatakan, ia sampai kewalahan menerima tingginya permintaan akan kue tradisional buatan rumah produksinya. Bahkan ia dan karyawannya harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pasar.

“Menjelang Ramadan dan pas hari raya, kita istilahnya kuras tenaga. Permintaan 2-3 kali lipat. Kalau tidak kita setop, mungkin lebih dari itu,” ujarnya.

-Advertisement-
Proses pengemasan jenang di rumah produksi milik Hadi. Foto: Ist

Baca juga : Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

Meski saat ini masih pandemi Covid-19, menurutnya tidak berpengaruh pada bisnis jajanan tradisional. Mengingat jajanan tempo dulu, selalu digunakan sebagai pelengkap untuk hajatan dalam budaya masyarakat.

Jika pada hari biasa ia hanya memproduksi kue wingko seberat 40 kilogram, kemudian wajik, jenang, dan madu mongso masing-masing 8 kilogram, namun menjelang Ramadan ia mampu memproduksi wingko 70 kilogram, jenang 15 kilogram, wajik 20 kilogram, dan madu mongso seberat 10 kilogram.

Harganya jajanan tradisional ini pun cukup terjangkau, untuk setiap kemasan ia membanderolnya antara Rp 800-1.000, tergantung jenis kuenya.

“Kemarin-kemarin sudah meningkat karena banyak acara hajat, seperti nikahan, panen, dan megengan. Belum lagi nanti kalau mendekati Lebaran,” ungkapnya.

Atas tingginya permintaan pasar, ia pun harus merelakan waktu berangkat lebih pagi untuk mendistribusikan jajanan produksinya. Termasuk membeli bahan baku, dan mengolahnya.

Masing-masing jajanan diolah pada pukul 10.00 WIB, selepas ia mengantarkan jajanan ke bakul. Semua dilakukan secara tradisional dengan menggunakan kayu bakar. Setelah semua jajanan matang pada sore harinya, dilanjutkan proses pengemasan malam itu juga.

Hadi menyebut, untuk masing-masing jajanan buatannya memiliki masa kedaluwarsa yang berbeda. Mengingat dalam proses pembuatannya ia tidak menggunakan bahan pengawet. Semuanya menggunakan bahan alami.

“Kalau wingko bisa tahan sampai 3 pekan. Sementara wajik 2-4 hari, bubur tuo (jenang/dodol) sepekan. Yang paling tahan lama itu Madu Mongso bisa sampai 2-3 bulan lamanya,” terangnya.

Pasarnya sendiri, katanya, masih didominasi pasar lokal di Kabupaten Pati. Pada tiga tahun lalu, ia mengaku sempat merambah ke Kabupaten Rembang. Lantaran keterbatasan tenaga produksi dan pengiriman, ia pun menghentikannya.

Baca juga : Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

“Paling Pasar Runting, Gowangsan, Karaban, Kayen, Pasar Wegil. Dulu pernah sampai Kabupaten Rembang masuk Pasar Lasem, Sluke, Kragan, Pandangan, dan Sarang. Karena kejauhan tidak kita lanjut, keterbatasan tenaga,” bebernya.

Hadi mengaku telah menggeluti dunia jajanan tradisional sejak tahun 2012. Awalnya ia hanya memproduksi kue wingko saja, lambat laun dicobanya untuk membuat kue tradisional lain.

“Habis dari Pesantren Lirboyo Kediri. Bingung cari kerja, akhirnya ikut orang kerja 2 bulan. Setelah itu coba kerja sendiri buat jajanan tradisional, 2 tahun pertama buat wingko, berkembang buat jenang, dan macem-macem,” sebutnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER