Riwayat Masjid Layur, Dulu Dua Lantai Kini Tinggal Satu Lantai Karena Ambles

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bagi warga Kota Semarang, nama Masjid Layur yang berada di Jl Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara‎, Kota Semarang tak asing lagi. Namun, jarang yang tahu jika masjid bersejarah itu setiap tahunnya ambles.

Bangunan yang dulunya dua lantai itu sekarang hanya tersisa satu lantai karena ambles bak ditelan oleh bumi. Beberapa daerah di Kota Semarang memang terjadi penurunan tanah, termasuk kawasan Masjid Layur.

Masjid Layur yang berada di Dadapsari, Semarang. Foto: Dafi Yusuf.

Peneliti tata kelola air dan kota University of Amsterdam, Bosman Batubara mengatakan, Masjid Layur merupakan salah satu objek yang terdampak penurunan tanah di Kota Semarang.

-Advertisement-

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Ada Sumur yang Dipercaya Lancarkan Rezeki di Klenteng Sam Poo Kong

“Penurunan tanah di Masjid Layur diakibatkan pengambilan air dalam secara berlebih,” jelasnya, Jumat (12/3/2021).

Selain itu, pengerukan berkala yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Emas juga membuat sedimen di bawah Kota Semarang bergerak ke arah laut.

“Penyedotan air tanah berlebihan biasanya menyebabkan terjadi amblesan tanah dalam skala luas sedangkan pembebanan bangunan menyebabkan amblesan yang lebih lokal,” katanya.

Pengurus Masjid Layur, Ali Mahsun membenarkan jika permukaan tanah di sekitar Masjid Layur memang mengalami penurunan. Hal itu menyebabkan kawasan Masjid Layur jadi langganan banjir.

“Ketika musim hujan di kawasan Masjid Layur memang sering kebanjiran,” ujarnya.

Baca juga: Reservoir Siranda, Saksi Bisu Pemberontakan Pemuda Semarang Lawan Jepang

Jika dia hitung, penurunan tanah di sekitar Majid Layur sekitar 20 sentimeter setiap tahun. Pihak masjid juga sudah berusaha untuk meninggikan tanah namun usahanya itu tak bertahan lama.

“Sudah kita tinggikan tanahnya namun karena tanahnya ambles ya lama-lama juga ikut ambles lagi,” ujarnya.

Meski setiap tahunnya mengalami penuruanan tanah, Masjid Layur masih terlihat asli. Pada Bagian kanan dan kiri masjid terdapat bangunan tua dengan ukuran besar.

Di sebelah Timur mengalir air kali Semarang sebagai salah satu jalur transportasi perdagangan penting di masa kolonial Belanda.

Dia menuturkan, masyarakat sekitar akrab menyebut bangunan ini dengan Masjid Menara. Sebab masjid ini memiliki menara yang menjulang tinggi berwarna putih sebagai tempat alat pengeras suara, penyeru saat azan berkumandang.

“Dulunya menara ini berfungsi sebagai mercusuar untuk mengawasi kapal-kapal dagang yang berlalu lalang di kali Semarang,” pungkas Ali Mahsun.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER