BETANEWS.ID, KUDUS – Di halaman sebuah rumah di Dukuh Kaliyoso seorang pria sedang mengaduk plastik yang sudah meleleh .Kemudian plastik meleleh tersebut dimasukkan ke dalam cetakan untuk dipres. Dalam hitungan menit, pria itu mengangkat cetakan dan memasukkan ke dalam ember yang berisi air. Dilepaslah plastik tersebut dari cetakan, jadilah paving block dari limbah plastik itu.
Pria itu adalah Gunondo, warga Dukuh Kaliyoso, RT 5 RW 6, Desa Karang Rowo, Kecamatan Undaan, Kudus. Sambil memegang paving block yang terbuat dari bahan plastik, ia berbagi kisah kepada betanews.id tentang perjalanan usahanya. Ia harus berhenti produksi karena terkendala modal.

“Peminatnya banyak, karena paving dari plastik lebih kuat. Tapi kami sudah produksi berhenti karena terkendala modal untuk membeli alat. Dengan alat ini, kedua teman saya sudah tidak kuat, jadi sekarang sudah berhenti produksi,” jelasnya.
Dia dan kedua temannya sudah berhenti produksi sejak akhir 2019. Kedua temannya sudah tidak sanggup karena tak tahan dengan asapnya. Asap dari plastik yang terbakar membuat sesak dada.
“Mulai akhir Tahun 2019 teman-teman merasa tidak ada harapan. Saya pribadi awalnya tidak mikir produksi lagi, tapi karena ada saudara dari jauh ingin belajar, akhirnya ini mencoba membuat lagi,” bebernya saat ditemui belum lama ini.
Baca juga : Warga Sedulur Sikep Olah Sampah Plastik jadi Paving Block Berkualitas
Ia berharap dengan mengelola sampah plastik, dirinya akan mendapat perhatian dari pemerintah. Tetapi seiring berjalannya waktu bantuan tak kunjung datang. Hingga mereka menyerah karena alat yang tidak memumpuni.
“Modal awal kita pinjam, berjalan hingga lebih dari satu tahun kita sudah tidak sanggup. Kita keteteran dengan alat ala kadarnya ini. Kita butuh alat yang memumpuni, dan tidak sanggup membelinya,” keluhnya.
Gunondo berharap ada orang yang membantu untuk modal. Entah dari pemerintah atau perseorangan. Karena ia ingin membeli mesin open, sehingga dalam proses produksi lebih aman. Selain aman dari polusi asap juga proses produksinya juga akan lebih mudah menurutnya.
“Jika ada modal saya ingin membeli alat yang lebih baik. Masak ini alatnya seperti tukang tambal ban. Kalo bisa kan pakai mesin open, agar tidak keluar asap yang seperti ini. Karena asapnya juga tidak ramah lingkungan,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

