Stanley Adrian Soesilo

Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Unika Soegijapranata

(Pemenang kompetisi Student of the Year 2020 Unika Seogijapranata)

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun. Jumlah tersebut setara dengan sepertiga dari produksi pangan dan empat kali jumlah yang dibutuhkan untuk mengakhiri kelaparan di seluruh dunia. Menurut laporan The Economist Intelligence Unit, 2017 lalu Indonesia pernah dinobatkan sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia.

Dari sini, muncul berbagai tekad dan gerakan kampanye agar masyarakat bertindak terhadap masalah sampah makanan. Tidak banyak disadari, permasalahan sampah makanan ternyata sangat kompleks dan berdampak terhadap ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Sampah makanan sebagai sebuah masalah, jarang diperbincangkan meski itu terjadi di dekat kita. Contoh yang sederhana ketika membuang makanan yang rusak atau melewati batas kedaluwarsa akibat tidak segera dikonsumsi.

Untuk memahami sedikit lebih dalam, perlu diketahui arti dan cakupan dari sampah makanan. Sampah makanan sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu susut pangan (food loss) dan limbah pangan (food waste). Sampah makanan adalah istilah untuk bahan makanan yang terbuang, hilang, terdegradasi, atau terkontaminasi; sedangkan susut pangan adalah istilah untuk bahan pangan yang mengalami penurunan kualitas atau kuantitas pada saat pemanenan, transportasi, pemrosesan, atau distribusi. Sedangkan limbah pangan adalah istilah untuk bahan makanan layak konsumsi yang terbuang pada tingkat pengecer, restoran, jasa penyedia makanan, dan konsumen.

Pada negara berkembang, susut pangan umumnya lebih banyak terjadi dibandingkan limbah pangan akibat keterbatasan teknologi pemanenan, penyimpanan, dan pengolahan. Namun, limbah pangan juga tetap terjadi dalam jumlah yang tidak sedikit, akibat kelebihan jumlah dalam membeli, kesalahan dalam penyimpanan, atau kesalahpahaman mengenai tanggal kedaluwarsa. Limbah pangan juga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan susut pangan. Hal ini karena limbah makanan sebenarnya memiliki nilai tambah sebagai hasil dari proses pengolahan, pencampuran dengan bahan lain, pengemasan, dan juga distribusi.

Berbagai program dilakukan untuk menanggulangi limbah makanan, misalnya mendistribusikan kembali makanan yang masih layak dan aman kepada mereka yang membutuhkan, atau mengolahnya menjadi kompos. Meskipun baik, tapi solusi tersebut belum menyelesaikan inti dari limbah pangan, yaitu makanan yang berlebih. Mengurangi limbah makanan memerlukan kegiatan perencanaan makanan yang dibeli atau dikonsumsi dan penyimpanan makanan dengan benar, serta penyesuaian porsi makan sesuai kebutuhan.

Generasi Z yang sangat akrab dengan dunia virtual perlu digandeng dalam edukasi mengenai cara mencegah limbah pangan. Media sosial cocok sebagai wadah untuk memberikan tips aplikatif sekaligus menyenangkan. Salah satunya melalui gerakan Cintai Makananmu, yang terdapat pada akun instagram LoveYourFood.id. Generasi muda hingga anak-anak dapat diajak untuk mengakses dan belajar untuk mengurangi kelebihan makanan dan pada gilirannya, diharapkan dapat menerapkannya. Mari mencintai makanan kita dengan tidak menyia-nyiakannya.

Tinggalkan Balasan