Penulis: Michael Adrian Iskandar

Mahasiswa Program Magister Teknologi Pangan Unika Soegijapranata

Minuman boba sempat menjadi viral di media sosial dan sampai sekarang pun masih populer. Ini terbukti dari sejumlah foto kalangan generasi post-milenial dengan segelas boba yang menghiasi lini masa. Kepopuleran ini kemudian banyak memunculkan merek minuman boba dengan inovasi unik.

Dari analisis yang dilakukan oleh Tinambunan dkk (2020) di kota Medan, serta Min-rong dkk (2020) di Taiwan, minuman boba digemari oleh generasi muda karena dapat menghilangkan rasa bosan, harga relatif terjangkau, memiliki sejumlah variasi inovasi rasa, topping, serta flavor. Selain itu, boba bertekstur kenyal, unik, dan berasa funky.

Kepopuleran boba berawal dari minuman bubble tea yang ditemukan pada tahun 1980 oleh Liu Hsiu Hui dan Liu Han Cieh. Keduanya adalah seorang wirausahawan kedai teh. Pada awalnya, minuman boba dikonsumsi dengan sendok. Namun, dikarenakan dinilai kurang praktis, penggunaan sendok digantikan dengan sedotan besar. Chau & Chen (2020) menambahkan bahwa sebutan bubble berasal dari minuman boba yang dikocok sehingga boba yang terletak di dasar permukaan, akan terangkat dan mengambang di atas permukaan dan berbentuk mirip dengan gelembung.

Minuman boba atau dalam bahasa Inggris disebut juga bubble drink atau boba drink adalah minuman yang mengandung boba atau pearl dan disatukan dengan bermacam-macam minuman yaitu teh, kopi, susu, blended drinks, serta teh herbal. Sedangkan boba itu sendiri berbahan dasar tepung tapioka, berwarna hitam atau putih, berbentuk bulat, dan bertekstur kenyal. Berbagai sumber menyebutkan, banyak wirausahawan yang mengombinasikan boba tersebut dengan berbagai macam topping minuman lainnya, yaitu jeli dan puding telur.

Sesungguhnya, di antara sebutan boba dan pearl terdapat perbedaan dalam warna, ukuran, dan komposisinya. Boba berwarna hitam, dengan ukuran bulatan lebih besar dibandingkan dengan pearl, dan terdiri dari pati singkong, ubi jalar (sweet potato) dan gula tebu cokelat (brown sugar). Sedangkan pearl berwarna putih transparan dan terdiri dari pati singkong, karamel, bahan citarasa (flavoring agent) dan akar chamomile. Kedua bahan tersebut dapat diaplikasikan sebagai topping di dalam minuman boba.

Penelitian Min dkk (2016) menunjukkan, nilai kalori yang terkandung pada satu cup kecil minuman the susu dengan kombinasi boba, puding telur, dan jeli, sebesar 323 kkal. Sedangkan dalam satu cup ukuran besar terkandung 515 kkal. Ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman boba sebaiknya dalam batas yang wajar.

Minuman boba dapat mengandung gula yang melebihi batas asupan gula, sekitar 10% dari kebutuhan energi harian. Oleh karenanya, konsumsi secara terus-menerus atau berlebihan juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan terutama yang terkait dengan konsumsi gula yang tinggi, apalagi jika disertai dengan aktivitas harian yang kurang gerak fisik. Oleh karena itu, mari tetap bijak dalam mengonsumsi minuman boba.

Tinggalkan Balasan