Tenaga Listrik Hybrid Bantu Penerangan Jalan Desa Banjarsari Demak

BETANEWS.ID, DEMAK – Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak memiliki sembilan dukuh yang terpisah dengan tambak dan sungai. Jarak antar pemukiman penduduk yang jauh membuat akses listrik menjadi kendala disana.

Salah satu yang minim penerangan yaitu jalan penghubung antara Dukuh Bondo dengan Dukuh Brangsong. Bertahun-tahun jalan tersebut dibiarkan gelap karena sulitnya jangkauan listrik dari Perusahaan Listrik Negeri (PLN). Alhasil hanya beberapa masyarakat saja yang berani melewati jalan tersebut saat malam hari.

Baca Juga: Ibu-ibu PKK Bintoro Suarakan Lingkungan Lewat Fashion Show Gaun Sampah

-Advertisement-

Berangkat dari keresahan masyarakat, pemerintah Desa Banjarsari mengajak peneliti energi terbarukan Universitas Semarang (USM) untuk membuat tenaga listrik yang ramah lingkungan. Salah satunya melalui penerapan sistem hybrid memanfaatkan tenaga angin dan surya.

Siang itu, Dosen Teknik Elektro Bidang Konversi Energi Listrik (USM) Satria Pinandita sedang mengecek tenaga listrik hybrid yang terpasang di dekat kuburan. Alat itu, menghubungkan 17 titik lampu yang dipasang sepanjang sekitar 1 kilometer dengan jarak 50 kilometer antar tiang.

Tampak bagian baling-baling berputar searah angin berhembus untuk memutarkan generator, kemudian menyalurkan ke pusat energi bersamaaan dengan panasnya matahari dan tersimpan di dalam baterai.

“Jadi ada sensor otomatis yang akan menyala sendiri saat gelap gulita menjelang magrib dan akan mati saat pagi hari muncul,” katanya, Senin (18/12/2023).

Baterai berkekuatan 3600 watt dengan masing-masing lampu 600-700 watt mampu bertahan selama 12 jam. Untuk membuat penerangan jalan, membutuhkan waktu selama sebulan dan menghabiskan biaya Rp84 juta yang diambil dari dana desa.

“Di sini kami menggunakan baterai litium jadi kurang lebih lima sampai delapan tahun untuk penggantian baterai,” ujarnya.

Meskipun begitu, baterai akan kurang maksimal dalam menyerap energi ketika cuaca buruk. Sehingga mengakibatkan cahaya lampu menjadi redup dan mati sewaktu-waktu.

“Itu juga tergantung dengan matahari yang dalam satu hari menyinari, kadang-kadang mendung, kadang-kadang panas, angin juga kadang datang atau tidak,” terangnya.

Baca Juga: Rumpelsos Demak Ditetapkan Jadi Cagar Budaya, Begini Sejarahnya

Selain di Demak, wilayah kota Semarang juga memanfaatkan pembangkit listrik teknologi hybrid untuk menerangi pujasera. Harapannya dengan munculnya energi terbarukan, dapat menjadi salah satu solusi dalam pelestarian lingkungan.

“Banyak masyarakat yang sudah sadar dengan transisi energi, dengan kesadaran itu akan menghemat, baik penggunaan listrik maupun mau menggunakan di rumahnya atau di tempat bisnisnya,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER