BETANEWS.ID, KUDUS – Kondisi kemarau panjang membuat beberapa wilayah mengalami kekeringan. Hal ini berdampak pada masyarakat seperti yang dialami warga Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Desa yang berada di ujung selatan Kota Kretek itu saat ini mengalami krisis air bersih.
Salah satu warga, Tejo Suliyono mengaku dia dan keluarganya rela mandi sehari sekali atau pada sore hari saja. Itu pun ia harus ngungsi di tempat tetangga untuk bisa membersihkan tubuhnya.
Baca Juga: Info Cegatan Kudus, 4 Hingga 17 September Bakal Ada Operasi Zebra Candi 2023
“Saya mandinya ngungsi loh mas, di tempat lain, di sumur milik tetangga. Karena air di sumur saya ini sudah kering dan tidak dapat dibuat untuk kebutuhan seperti mandi,” keluh pria yang akrab disapa Tejo kepada Betanews.id, Senin (4/9/2023) sore.
Kondisi itu, katanya, sudah dialaminya sejak dua pekan terakhir. Tejo mengungkapkan, sebelumnya ia sudah berupaya mengisi sumurnya dengan air yang dimuat dengan mobil tangki yang dibelinya untuk kebutuhan sehari-hari. Namun air itu rupanya tidak mencukupi kebutuhan.
“Sumur kering sudah dua bulan lebih. Dulu juga pernah ngisi pakai tangki seperti ini, cuma 10 hari sudah habis. Jadinya sekarang ya pasrah saja,” ungkapnya sambil tersenyum.
Warga Desa Glagahwaru RT 4 RW 3, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu berencana mengambil air bersih dropingan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus 10 liter. Nantinya air itu akan dibuat untuk masak dan air minum.
“Kalau ada tempatnya ya ngambil sebanyak mungkin, soalnya setiap hari pakai,” jelasnya.
Ia mengatakan, untuk konsumsi air minum, biasanya ia membeli air di depo air yang diambil dari sumber umbul yang berada di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dengan bantuan air itu, Tejo merasa senang karena setidaknya air bantuan itu bisa sedikit mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
“Dropingan air sangat diharapkan warga karena kayak gini kan kusus buat sehari-hari. Kalau mandi mungkin bisa cari sendang atau ngungsi dimana, yang penting buat keseharian masak, nyuci, dan minumnya itu loh,” tuturnya.
Ia berharap kedepannya, Pemerintah Desa (Pemdes) ataupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) diminta tanggap darurat demi untuk memikirkan warganya yang sedang kesusahan. “Tidak harus minta terlebih dahulu, tanggaplah, kasihan warga,” harapnya.
Hal sama juga dialami Partini. Wanita berusia 32 tahun itu mengaku belum mandi dari pagi. Lantaran sumur miliknya juga sudah kering dan tidak dapat mengalirkan air sama sekali.
“Mandinya terpaksa ngungsi. Sudah dua pekan lebih ngungsi mandi ditempat tetangga. Kondisinya sekarang air tidak bisa diambil pakai sanyo, karena sudah kering,” tuturnya warga RT 4 RW 3, Desa Glagahwaru.
Baca Juga: Peringati Harpelnas, RS Mardi Rahayu Hibur Serta Bagikan Hadiah Pakai kostum Superhero
“Sehari belum mandi karena tidak ada air, males ngungsi terus karena capek,” keluhnya.
Ia menuturkan, kondisi kekeringan di desanya itu dirasa paling parah dari sebelum-sebelumnya. Menurutnya, ia berencana akan mengambil sebanyak 10 liter air bersih dropingan dari BPBD Kudus, untuk kebutuhan sehari-hari.
Editor: Haikal Rosyada

