BETANEWS.ID, JEPARA – Siti terlihat sedang mengecat gerabah di rumahnya, Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Setiap harinya, ibu dua anak itu memang selalu berkutat dengan ribuan mainan yang terbuat dari tanah liat itu.
Sudah hampir 14 tahun Siti berjualan gerabah remitan ini. Gerabah itu ia beli dari salah satu pusat kerajinan gerabah di Desa Mayonglor dalam kondisi polos. Di rumahnya, ia kemudian mewarnainya dengan warna-warna ungu, biru, hijau, merah, dan lain-lain.

“Selain remitan ini ada kendi sama celengan juga. Saya beli sudah jadi dan nanti tinggal dikasih warna saja sebelum dijual. Jadi saya tidak produksi sendiri,” ungkap Siti, Kamis (13/7/2023).
Baca juga: Kisah Tatik 25 Tahun Hidup Nomaden Keliling Daerah untuk Jualan Gerabah
Untuk proses pewarnaannya, Siti melakukan lima tahap. Pertama-tama dikasih lem atau perekat terlebih dahulu apabila ada bagian yang rusak. Kedua diberi dasaran warna putih, lalu dicat dengan salah satu warna pelangi secara menyeluruh. Setelah itu diberi warna bening agar terlihat lebih mengkilap, dan terakhir dikasih gambar-gambar simpel seperti batik dan sebagainya.
“Setelah diwarnai lengkap nanti dijual ketika ada event di berbagai daerah, seperti Dugderan Semarang, Alun-Alun Keraton Kota Solo, Terakhir kemarin di Besaran Demak. Untuk harganya dihitung per biji mulai dari Rp3 ribu sampai Rp5 ribu,” rinci Siti.
Tak hanya itu, setiap Idulfitri atau saat musim mudik, gerabah remitan ini banyak dibeli orang-orang yang datang dari perantauan untuk oleh-oleh.
Penulis: Faza Amalia Rizqi, Mahasiswa PPL IAIN Kudus
Editor: Ahmad Muhlisin

