Mentan Syahrul Yasin Limpo Panen Padi Aplikasi Biosaka di Semarang

BETANEWS.ID, KUDUS – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menghadiri panen perdana padi hasil aplikasi Biosaka oleh Kelompok Tani (Poktan) “Ayem Tenan” di Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang pada Kamis (27/7/2023).

Didampingi Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, Ita, berserta jajarannya, Mentan Syahrul secara simbolik memanen padi dan menanam bibit padi di area sawah yang berhadapan dengan Soto Sawah Mbak Tutik, tempat berlangsungnya seremoni panen dan tanam padi.

Baca Juga: Nasib Anak Tiga Desa di Demak Melawan Perubahan Iklim

-Advertisement-

Acara tersebut bertajuk “Panen dan Tanam Padi Aplikasi Biosaka Dalam Rangka Antisipasi El Nino Bersama Menteri Pertanian, Gubernur Jawa Tengah, dan Wali Kota Semarang.” Dalam acara tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tidak hadir dan diwakili oleh pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah.

Selain memanen dan menanam padi, Syahrul dan Ita juga bersama-sama mendemonstrasikan proses pembuatan cairan Biosaka yang merupakan inovasi teknologi pertanian modern hasil riset petani asal Blitar, Muhammad Ansar. Cairan Biosaka ini adalah suplemen untuk tanaman yang pemakaiannya dengan cara disemprotkan ke udara di sekitar area penanaman. Inovasi Biosaka ini telah terbukti dapat melindungi tanaman dari serangan hama, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Biosaka merupakan akronim dari bio yang berarti organisme yang hidup, dan saka yang merupakan kependekan dari Selamatkan Alam Kembali ke Alam. Biosaka diolah dari rumput-rumputan atau dedaunan yang sehat dan bersih, serta terbebas dari hama atau jamur. Bahan-bahan tersebut diremas-remas dalam sewadah air sampai saripatinya larut.

Dalam demonstrasinya, Syahrul menyertakan pula unsur kearifan lokal yang diturunkan oleh sang penemu Biosaka. Unsur itu dengan melibatkan kegiatan berdoa sambil melakukan pemerasan bahan olahan Biosaka. Selain itu, Syahrul juga mencontohkan cara memeras bahan dasar Biosaka dengan memutar ke arah kiri, dalam filosofi arah putaran jamaah haji atau umroh yang melakukan thawaf saat mengelilingi Ka’bah.

Proses pengolahan bahan dasar Biosaka tersebut dilakukan hingga air dalam wadah dapat mencapai kepekatan hingga 300 ppm. Pengukuran kepekatan itu dilakukan dengan alat ukur bernama Total Disolved Solid (TDS) yang dijual di pasaran dengan harga murah.

“Dengan intervensi Biosaka atau kearifan lokal, yang sudah teruji untuk menyuburkan tanah, pertanian, kita berharap dapat menurunkan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen,” papar Syahrul.

Sementara Ita menjelaskan, dengan penggunaan Biosaka tersebut, hasil pertanian lebih meningkat.

“Ada sekitar 50 hektar (lahan pertanian), 30 hektarnya dengan menggunakan Biosaka. Tadi Pak Menteri menyampaikan hasilnya satu hektar ada enam ton. Ini lebih besar daripada memakai pupuk kimia,” terang Ita.

Peningkatan hasil peetanian dengan Biosaka tersebut juga diakui oleh Ketua Poktan Ayem Tenan, Zaenal Arifin dan salah seorang anggotanya, Jaimin.

Baca Juga: Pelantikan JP3M Jateng, Ganjar Ceritakan Perjuangan Mbah Moen dan Nyi Hajar Dewantara

“Dengan Biosaka, bentuk tanamannya sudah bagus dan subur, tidak perlu dipupuk lagi,” ujar Zainal.

“Panennya lebih cepat. Kalau tidak pakai Biosaka hampir tiga bulan. Ternyata pakai Biosaka 50 hari bisa panen,” timpal Jaimin.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER