Patiayam, Rekaman Sejarah Perubahan Tiga Lingkungan Jutaan Tahun Lalu

BETANEWS.ID, KUDUS – Tak dapat dipungkiri, Pegunungan Patiayam adalah aset yang menyimpan dan merekam sejarah perubahan tiga lingkungan, mulai dari lingkungan laut, rawa, dan darat sejak 2 juta tahun yang lalu. Hal itu dilihat dari hasil temuan fosil yang telah ditemukan di sana.

Pamong Budaya Ahli Pertama Museum dan Cagar Budaya Unit Sangiran, Muhammad Mujibur Rohman mengatakan, dari hasil kajian koleksi fosil, ternyata daerah Patiayam lingkungannya sudah berubah tiga kali.

Baca Juga: Museum Patiayam Kini Punya Koleksi 10.032 Fosil

-Advertisement-

“Jadi dari fosil yang kami kaji itu ada yang menceritakan bahwa Patiayam dulunya adalah lingkungan laut, kemudian berubah menjadi lingkungan rawa, dan kemudian berubah menjadi lingkungan darat. Ini hanya bisa dilihat dari hasil fosil dan sisa-sisa lingkungan yang ada,” katanya usai kegiatan seminar hasil kajian Museum Patiayam di Hotel @Hom, Senin (24/7/2023).

Ia menjelaskan, fosil yang ditemukan saat lingkungan laut berupa fragmen tulang belulang ikan, kemudian fosil berupa kelapa dan tengkorak buaya saat berubah menjadi lingkungan rawa, serta saat berubah menjadi lingkungan darat, ditemukan fosil kudanil yang saat ini tidak bisa ditemui di wilayah Kudus.

seminar hasil kajian Museum Pati Ayam di Hotel @Hom, Senin (24/7/2023). Foto: Umam

“Fosil tertua di Patiayam itu kurang lebih 2 juta tahun yang lalu, kemudian ada juga yang 900 ribu tahun yang lalu. Kemudian juga ditemukan alat-alat yang digunakan manusia purba di sana, seperti alat tulang dan alat bantu. Dari itulah kami bisa melihat jejak manusia purba yang menghuni Patiayam dulu,” ungkapnya.

Hal tersebut, kata Rohman, yang membuat situs Patiayam menjadi istimewa. Lantaran tidak semua daerah di Indonesia memiliki situs purbakala yang punya koleksi berusia 2 juta tahun.

Seminar hasil kajian Museum Pati Ayam di Hotel @Hom, Senin (24/7/2023). Foto: Umam

“Itu kan tidak semua bisa ditemukan di Indonesia, jadi Patiayam ini termasuk situs yang istimewa. Karena ditemukan jejak manusia purba dan fosil purbakala,” tuturnya.

Sementara itu, Kurator Museum Pati Ayam, Nunung Gina Santika menambahkan, ada 66 koleksi yang telah dilakukan kajian dan saat ini sedang diseminarkan untuk bisa lebih cepat dipamerkan di Museum Pati Ayam.

Baca Juga: Sosok Keysha Anggun, Siswi SMAN 1 Kudus Pencipta Tari Situs Patiayam

“Jadi kami telah menyelesaikan acara penelitian, presentasi hingga kajian koleksi rutin setiap tahunnya. Kemudian kita perlu mensosialisasikan hasil kajian tersebut kepada masyarakat,” imbuhnya.

Pihaknya selama melakukan kajian koleksi beberapa bulan lalu, mengaku mengalami kendala dari koleksi mengalami kerusakan. Menurutnya, ada bagian koleksi yang pecah sampai kecil-kecil, sehingga koleksi tidak bisa utuh seperti semula.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER