31 C
Kudus
Kamis, Februari 19, 2026

Kirab Pusaka Keraton Surakarta, 5 Kebo Bule Jadi Cucuk Lampah

BETANEWS.ID, SOLO – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar peringatan malam satu Sura pada Rabu Legi, malam Kamis Pahing (19/7/2023). Lima ekor kebo bule menjadi cucuk lampah atau biasa diartikan sebagai pemimpin pasukan kirab.

Halaman Kori Kamandungan, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sudah dipenuhi oleh masyarakat malam itu. Para abdi dalem yang mengenakan busana tradisional Jawa gaya Surakarta masuk ke dalam keraton karena acara sudah akan dimulai.

Baca Juga: Tradisi Jeguran Saat Malam Satu Sura di Blumbang Pesarean Mbah Mutamakkin Kajen

-Advertisement-

Dari sisi bagian dalam Keraton, sebelum Kirab Pusaka digelar, tepatnnya di sore hari, Keraton menggelar wilujengan atau memanjatkan doa untuk meminta keselamatan. Kemudian dilanjutkan dengan acara Haul Dalem Kanjeng Sunan Paku Buwana X, sebab belau wafat bertepatan pada Malam Satu Suro.

“Nanti sekitar 23.30 WIB mulai persiapan, yang bertugas membawa pusaka sudah berkumpul ke Maliki, lalu dibagikan sangsang atau kalung bunga melati, dan dikasih Gajah Oling atau di telinga dikasih bunga, pertanda bahwa dia utusan Raja,” tutur Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo Dani Nur Adiningrat.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, bagian Kori Kamandungan sudah dipenuhi masyarakat. Beberapa orang abdi dalem kemudian menyiapkan sesajen dan membaca mantera. Tak lama setelah itu, mahesa atau kerbau bule milik Keraton diarahkan menuju lokasi itu. Di sana, kerbau diberikan kalung dari rangkaian bunga melati oleh pawang, serta diberi makanan berupa ubi jalar dan air untuk minum. Kebo bule ini merupakan bagian dari pengiring salah satu pusaka keraton, Kyai Slamet.

“Kerbau Bule itu sebenarnya bagian dari pengiring salah satu pusaka keraton yang dinamakan Kanjeng Kyai Slamet,” tutur Dani.

Para pengunjung lansung mengabadikan momen saat kerbau di bawa ke Kori Kamandungan, tetapi mereka juga berharap agar kerbau bisa segera berjalan sesuai dengan rute kirab. Sebab, Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta ini baru bisa dimulai saat kerbau bule bersedia berjalan dengan sendirinya, tanpa diarahkan.

Sekitar satu jam kerbau bule berada di halaman Kori Kamandungan. Kemudian, sekitar pukul 00.00 WIB, kerbau yang berjumlah lima ekor tersebut mulai berjalan menuju gerbang keluar, menuju Jalan Supit Urang. Salah seorang abdi dalem kemduian membunyikan lonceng dengan cukup keras dari atas gerbang, sebagai sebuah pertanda bagi pembawa Pusaka Dalem yang masih berada di dalam keraton bahwa kerbau sudah berjalan dan kirab bisa dimulai.

Ratusan abdi dalem kemudian keluar dari pintu Keraton. Selain membawa Pusaka Dalem, mereka juga membahwa lampu ting dan juga obor dari bambu sebagai sumber pencahayaan ketika melaksanakan kirab. Sebanyak tujuh pusaka dikirab dalam acara kirab pusaka tahun ini.

Kirab Pusaka Dalem ini melalui rute yang cukup panjang. Dimulai dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Supit Urang, berlanjur melalui Jalan Pakoe Boewono, Gapura Gladag menuju ke Jalan Jendral Sudirman dilanjutkan menuju ke arah timur ke Jalan Mayor Kusmanto. Selanjutnya belok ke arah Selatan menuju Jalan Kapten Mulyadi, berjalan ke Barat menuju Jalan Veteran, belok ke Utara menuju Jalan Yos Sudarso. Setelah itu, ke arah Timur menuju Jalan Slamet Riyadi dilanjutkan belok ke Selatan menuju Jalan Pakoe Boewono dan kembali ke Keraton.

Selama kirab berlangsung, para abdi dalem dan peserta kirab harus mematuhi atuan yang berlaku. Pada saat kirab, mereka diwajibkan untuk mengikuti Tapa Bisu atau tidak boleh berbicara sama sekali hingga kirab selesai dan kembali ke Keraton. Lama waktu berlangsunngnya kirab juga tergantung dengan cepat atau tidaknya “kebo bule” berjalan. Abdi dalem dan peserta kirab lainnya akan mengikuti laju dari kerbau tersebut.

Banyak masyarakat yang meyakini bahwa ketika kerbau bule dikirab dan mengeluarkan kotoran, kotoran tersebut konon katanya dapat memberkan keberkahan. Namun, hal itu sebenarnya juga bisa ditafsirkan secara logis. Yakni sebenarnya pada zaman dahulu, kerajaan-kerajaan di Jawa bersikap semi maritim jika dibandingkan dengan agraris. Namun, karena kerajaan didirikan di bagian tengah, kemudian bersikap agraris.

“Jadi sebenarnya ini pembelajaran bagi masyarakat juga, bahwa sebenarnya kotoran kerbau itu kan menjadi kompos, dari kotoran kerbau mana pun juga akan menjadi kompos dan menjadi pupuk. Kita kembali ke alam yang mengajarkan bahwa ini bisa menjadi bermanfaat, kerbau itu selain bermanfaat tenaganya, bermanfaat secara filosofis, juga bermanfaat sebagai pupuk kotorannya,” jelasnya.

Baca Juga: Ratusan Warga Berebut Keberkahan Nasi Jangkrik di Sendang Kaliwungu

Pada kirab kali ini, jumlah Pusala Dalem yang dikirab sebanyak tujuh buah dengan diiringi oleh 5.000 peserta. Namun, tidak semua abdi dalem Keraton Kasunanan mengikuti kirab pusaka ini, ada juga yang melaukan ritual lainnya di dalam Keraton.

“Selain kirab, di dalam Keraton ketika yang lain kirab, di dalam pun ada meditasi atau doa bersama di kawasan Bandengan. Selain itu ada juga yang di masjid Pujasana, masjid di dalam Keraton untuk melakukan salat hajat, salat malam, dan berdoa di situ,” kata dia.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER