31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Tingkat Literasi Indonesia Rendah, Penulis Muda Jadi Harapan Memugar Kejayaan Sastra

BETANEWS.ID, SEMARANG – Akademisi dan penulis di Semarang, Yosep Bambang Margono, mengungkapkan bahwa kegiatan menulis selalu tidak lepas dari kegiatan membaca. Menurutnya, dengan banyak membaca akan memperluas khazanah literasi yang akan berdampak pula pada tulisan penulis.

“Kalau ingin menulis puisi ya harus banyak baca buku puisi, kalau ingin menulis cerpen (cerita pendek) ya banyak baca cerpen. Begitu pula seterusnya kalau menulis novel dan sebagainya,” terang Yosep.

Yosep yang juga pengajar jurusan Sastra Inggris di salah satu universitas di Kota Semarang ini membeberkan bahwa menulis itu mudah. Hal ini terutama sebagai penyemangat generasi muda untuk tidak lepas berkarya dalam tulisan. Persoalan tentang keindahan, ia yang mengajarkan tentang artistik tulisan kepada para mahasiswanya, bisa didapat ketika seseorang terus berproses menulis. Ia menekankan agar proses menulis dilakukan terlebih dahulu.

-Advertisement-

Baca juga: Perjalanan 86 Tahun, Ngesti Pandowo Jadi Kelompok Kesenian Wayang Orang Melegenda

Yosep sendiri saat ini telah menelurkan 14 buku yang terdiri dari karya fiksi dan nonfiksi. Buku pertama yang ia tulis di antaranya ‘Kepingan Mozaik Cinta dan Sireping Prahara.’ Ada pula karya terbaru berjudul ‘Cangkem’ yang ia rilis di tahun ini.

Yosep yang pernah berkuliah di Amerika Serikat, juga menuliskan pengalamannya belajar di negeri orang itu dalam karya ilmiah. Ia pun membandingkan minat baca masyarakat di tempat studinya tersebut dengan masyarakat Indonesia yang terbilang rendah.

Dilansir dari laman kominfo.go.id pada 2017 menyebutkan data dari riset World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Karya-karya Yosep memang lebih banyak dirilis ketika dirinya menginjak usia tak muda. Hal ini karena kesibukannya sebagai dosen yang membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk membukukan karya-karyanya. Namun baginya, usianya saat ini tak menyurutkan dirinya untuk terus berkarya. Baginya, karya tulis itu abadi. Seperti halnya penulis Kota Semarang lainnya, Sulis Bambang yang terus produktif di usia senja. Sulis Bambang juga ikut memotivasi penulis muda untuk berkarya.

Menurut Sulis Bambang, ide menulis bisa didapat dari interaksi penulis dengan lingkungan, alam, dan aktivitasnya sendiri.

Baca juga: Lewat Mak Yong, Teater Pomponk Ceritakan Sisi Lain Kehidupan di Batam

“Menulis itu adalah membaca. Membaca alam, membaca lingkungan, membaca situasi. Ketika kita menulis, karya kita akan menjadi peninggalan bagi anak cucu kita,” sebut Sulis.

Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Imaniar Yordan Christy saat menggelar acara “Ngobras (Ngobrol Asyik Sastra Semarang)-Meretas Kendala Berkarya” di joglo Dekase, beberpa waktu lalu, mengatakan, pihaknya saat ini tengah mendorong penulis-penulis muda di Semarang untuk memugar kembali dunia sastra dan literasi di kota lumpia ini.

“Penting bagi generasi muda untuk menghidupkan kembali kejayaan karya sastra di Semarang. Harapannya dapat muncul kembali penerus sastrawan Semarang kenamaan yang saat ini sudah berusia lanjut,” papar Imaniar.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER