BETANEWS.ID, JEPARA – Ribuan peserta yang terdiri dari 15 pengusaha tenun, 40 talent peragaan busana, serta perwakilan dari masing-masing RT di Desa Troso ikut memeriahkan event Troso Festival.
Petinggi Desa Troso, Abdul Basyir, menjelaskan, event tersebut merupakan salah satu upaya dari pemerintah desa untuk terus melestarikan serta membangkitkan produksi tenun troso. Sebab menurutnya, pada saat masa pergantian pemerintahan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Presiden Jokowi, produksi tenun troso yang dulunya berjaya sempat lesu.

“Waktu jaman Pak SBY kan menggalakkan lurik, sampai ada motif SBY, kemudian pada saat Pak Jokowi menggalakkan pakaian batik. Namun dengan perjuangan Pak Bupati di masa itu, Jepara masih bisa memakai troso saat hari Selasa dan Rabu,” katanya pada Betanews.id, saat ditemui usai perayaaan Kirab Budaya dan Karnaval Troso Festival, Sabtu (15/7/2023).
Baca juga: Sejarah Tenun Troso: Dikenalkan Keturunan Sunan Muria, Kini Jadi Warisan Budaya Tak Benda Jepara
Namun kebijakan tersebut menurutnya tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi tenun troso, sebab dalam skala produksi kecil. Sehingga pemerintah Desa kemudian berinisiatif untuk mengadakan Festival Troso. Ia mengatakan, efek dari kegiatan tersebut ternyata mampu mendongkrak produksi Tenun Troso.
“Waktu pertama kali diadakan ternyata ada efeknya. Waktu ada acara ulang tahun BCA ada pesanan 4.300 potong, luar biasa. Karena generasi sekarang bisa memasarkan lewat internet, kemudian mulai ada juga pesanan dari daerah luar seperti Bali, Lombok, Tanah Abang,” jelasnya.
Meskipun mampu menaikkan produksi dari Tenun Troso, ia mengatakan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut juga sempat mendapat kritikan karena tingginya anggaran yang digunakan.
Baca juga: Kain Troso di Abadi Tenun Troso Ini Punya Banyak Motif Ciamik
Setelah dua tahun vakum karena adanya pandemi dan meskipun sempat mendapat kritikan Troso Festival tetap kembali diadakan pada tahun ini. Bahkan dalam perayaan pada tahun ini tidak hanya diikuti oleh pengrajin tenun, tetapi ada juga pengrajin anyaman bambu.
“Kalau tahun ini lebih meriah acaranya, dan tadi juga ada kerajinan anyaman bambu, sehingga harapannya memang ini juga bisa menjadi ajang promosi bagi produk-produk khas Desa Troso yang tidak hanya tenun,” ujarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

