BETANEWS.ID, JEPARA – Sebagai upaya mewujudkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Kabupaten Jepara memiliki aplikasi yang digunakan untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat.
Untuk melindungi sistem dan data di aplikasi tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jepara membentuk Tim Koordinasi Tanggap Insiden Keamanan Siber atau Computer Security Insident Response Team (CSIRT).
Kepala Diskominfo Jepara, Arif Darmawan, mengatakan, tim yang dibentuk dari masing-masing OPD ini nantinya bertugas untuk mengelola atau melindungi aplikasi dari masing-masing dinas. Sehingga, aplikasi yang mendukung pelayanan kepada masyarakat tersebut dapat teruji dan terverifikasi dari bahaya kejahatan siber.
Baca juga: Jepara Diproyeksikan Jadi Kota Pariwisata dan Industri, Andalkan Ukir, Tenun Troso, dan Karimunjawa
“Contoh mudahnya agar aplikasi-aplikasi dari pemkab ini tidak mudah dihack atau diserang. Sebab ada beberapa kasus web, atau aplikasi dari pemerintah masih rentan diserang atau kena hack. Kadang ada yang ditempeli atau kena judi online atau gambar porno. Kita tidak ingin itu terjadi di Pemkab Jepara,” terang Arif saat ditemui Betanews.id di kantornya, Selasa (23/5/2023).
Arif menjelaskan, CSIRT nantinya merupakan sistem keamanan aplikasi yang melindungi semua aplikasi milik Pemkab. Sebelum di launching, tim terlebih dahulu dilatih untuk memahami cyber crime dan tindakan yang harus dilakukan pada saat situs yang dikelola ada indikasi mendapat serangan.
“Sehingga kita juga ingin memastikan agar perangkat daerah di Kabupaten Jepara ini paham betul tentang bagaimana mengelola atau melindungi aplikasi-aplikasi yang dikelola oleh masing-masing dinas,” jelasnya.
Baca juga: 1682 Hektare Lahan di Jepara Bakal Dijadikan Kawasan Industri, Ini Lokasinya
Pranata Komputer dari Bidang Informatika, Diskominfo Jepara, Julda Safa, menambahkan, selama ini bentuk serangan terhadap situs milik pemkab berupa berubahnya tampilan awal dari situs tersebut.
“Kalau yang selama ini ya perubahan tampilan web disusupi situs perjudian. Alhamdulillahnya belum sampai ke dalam dalam sudah bisa ditangkal,” ujarnya.
Akibat dari serangan tersebut menyebabkan akses pelayanan kepada masyarakat jadi terganggu. Sebab pada saat diakses tampilan dari halaman web yang diretas tidak menampilkan situs yang sebenarnya tetapi situs halaman web yang meretas.
Editor: Ahmad Muhlisin

